Minyak Tanah; Tolong Jangan Terus-menerus Bikin Hidup Kami Susah…

M Syaifullah
Kamis, 06 September 2007

kompas-cetak52

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/06/jogja/1042040.htm

Kompor minyak tanah pompa milik Raharjo (32), pedagang kaki lima di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (5/9) pagi, yang terletak dekat gerobak makanannya belum dinyalakan. Hal itu bukan karena bahan bakar minyak tersebut habis atau mengalami kelangkaan, tetapi dia hanya nyalakan ketika ada yang makan di warungnya.

Raharjo juga melakukan itu tentu saja untuk berhemat. Untuk memasak air minum, pria dari Kabupaten Gunung Kidul ini menggunakan arang kayu dan anglo, tungku dari tanah liat. “Dengan arang kayu dan minyak tanah, membuat kami tidak pernah kesulitan dalam ketersediaan bahan bakar. Selain itu, harganya pun sangat terjangkau untuk pedagang kecil seperti saya,” katanya.

Namun, pemuda bertubuh kurus dan jangkung ini terlihat sedikit tegang ketika ditanya bagaimana persiapan dirinya kalau menjadi salah seorang warga yang akan menerima program pengalihan bahan bakar dari minyak tanah ke gas elpiji. “Apa betul nanti kalau diganti gas, minyak tanah sudah tidak ada lagi?” kata Raharjo.

Menurut pria yang telah berjualan di sana sejak tahun 1995 ini, pihaknya tidak setuju minyak tanah ditiadakan. Alasannya, bahan bakar tersebut selain murah juga pemakaiannya mudah dan hemat. “Kami ini rakyat kecil, semestinya jangan dibikin susah. Yang baik sesuaikan saja penyediaan bahan bakar itu dengan kemampuan warga, bukan sebaliknya dipaksa membeli bahan bakar dengan harga yang tinggi,” tuturnya.

Risau
Kerisauan Raharjo bukan sekadar soal akan hilangnya minyak tanah, dirinya juga masih bertanya-tanya siapa sajakah yang bakal mendapat bantuan tabung dan kompor gas dalam program konversi ke elpiji tersebut. “Kalau saya, misalnya, tidak mendapatkan pembagian tabung dan kompos gas tersebut, berarti ada dua kesulitan, tidak dapat minyak tanah lagi karena pasokannya dihentikan dan tidak ada pilihan lain kecuali harus membeli tabung dan gas sendiri,” ucapnya.

Rencana lenyapnya minyak tanah terkait dengan program konversi ke gas ini tidak hanya mengkhawatirkan Raharjo, tetapi juga kalangan pedagang kaki lima yang ditemui Kompas di Yogyakarta, seperti di kawasan Universitas Gadjah Mada dan Jalan Solo. Kekhawatiran itu juga dialami beberapa pemilik pangkalan minyak tanah yang usaha mereka terancam gulung tikar.

Raharjo hanyalah gambaran dari pemakai minyak tanah di Yogyakarta yang mencapai 29,08 persen. Publikasi dari Badan Pusat Statistik provinsi menyebutkan pemakai minyak tanah mencapai 298.812 dari 999.920 keluarga. Bisa dipahami, apabila mereka menjadi khawatir kalau tidak masuk program untuk mendapatkan tabung dan kompor gas tersebut.

Kebijakan konversi ini, kata Suharto, staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, bisa menjadi bumerang kalau tidak memerhatikan bagaimana impitan dan kesulitan ekonomi masyarakat kelas bawah saat ini. Untuk bisa melaksanakan program ini secara baik, kata kuncinya koordinasi harus dilakukan lebih baik. Masing-masing institusi penanggung jawab dan pelaksana juga harus jelas.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: