Konversi Minyak Tanah

TAJUK RENCANA
Selasa, 28 Agustus 2007

kompas-cetak37

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/28/opini/3795297.htm

Langkah pemerintah untuk mengonversi minyak tanah ke elpiji ternyata menimbulkan kehebohan. Di banyak tempat warga antre minyak tanah.

Kita bisa memahami niat pemerintah untuk mengonversi energi. Penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar rumah tangga terlalu mahal biayanya. Pemerintah bukan hanya harus mengimpor, tetapi juga memberikan subsidi yang besar.
Belum lagi kita bicara soal penyalahgunaannya. Minyak tanah untuk rumah tangga sering kali dipakai oleh industri untuk memanfaatkan subsidinya.

Pada sisi lain, kita memiliki banyak sumber energi lain seperti gas, baik dalam gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) ataupun elpiji (liquefied petroleum gas/LPG). Energi yang satu ini bukan hanya lebih murah harganya, tetapi juga lebih ramah terhadap lingkungan.

Persoalannya, selama ini kita tidak pernah memanfaatkannya. Bahkan, demi sekadar mengejar devisa, kita menjual energi yang lebih bersih itu ke luar negeri dan sebaliknya mengimpor energi yang kotor ke sini.

Sampai di sini, langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengganti minyak tanah dengan elpiji benar. Hanya saja, kita tidak boleh lupa, perubahan yang berkaitan dengan kebiasaan hidup masyarakat tidak bisa dilakukan sekali jadi. Harus ada sebuah kajian sosial yang lebih mendalam agar kita bisa mengetahui secara detail kendala yang akan dihadapi apabila kebijakan konversi energi akan dilaksanakan.

Di sinilah persoalan itu kita hadapi sekarang ini. Perencanaan untuk penerapan kebijakan konversi energi tidak dilakukan secara lengkap. Aspek sosial yang terkait di dalamnya tidak cukup didalami sehingga akhirnya menimbulkan kehebohan. Padahal, kita sadar betapa pentingnya sebuah perencanaan. Dalam ilmu manajemen selalu dikatakan bahwa perencanaan yang baik dan matang adalah 50 persen dari keberhasilan.

Dari pemantauan di lapangan, kita tangkap masalah itu terjadi mulai dari pendataan rumah tangga yang berhak mendapatkan bantuan kompor gas. Kita juga tidak memerhatikan struktur rumah dari mereka yang akan menggunakan kompor gas, yang kebanyakan tidak memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga rawan terhadap kebocoran gas. Hal lain yang kita juga alpa, kita tidak memerhatikan struktur pendapatan dari kebanyakan rumah tangga masyarakat kita.

Mereka yang tidak memiliki pendapatan tetap sangatlah sulit untuk membeli gas dalam bentuk satuan tabung. Mereka hanya mampu membeli barang dalam bentuk eceran. Itulah yang menjadi alasan keberatan mereka untuk beralih dari minyak tanah.

Kita mengerti bahwa konversi energi tidak akan pernah bisa berhasil apabila tidak ada unsur “pemaksaan”. Namun, sekali lagi, sepanjang itu tidak diikuti dengan pemahaman akan kultur bangsa ini, maka yang muncul adalah salah pengertian.

Buruknya sosialisasi dari kebijakan konversi energi harus dibayar dengan banyaknya warga yang mengantre minyak tanah. Ini ironi bagi negeri yang kaya akan sumber daya alam.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: