Konversi Minyak; Jangan Ada Mimpi Buruk Lagi bagi Perajin Kompor…

Defri Werdiono
Jumat, 31 Agustus 2007

kompas-cetak47

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/jogja/1041799.htm

“Konversi minyak, saya tahu setengah-setengah. Perkembangannya sendiri sampai di mana sekarang?” tanya Murji Sutrisno, perajin kompor minyak yang tinggal di wilayah RT 02 RW 22 Sekarsuli, Sendangtirto, Brebah, Sleman, kepada Kompas.

Pria paruh baya ini pun kembali melanjutkan pekerjaan, mengetok- ngetok pelat seng bekas berbentuk lingkaran yang akan menjadi salah satu bagian dari kompor minyak. Ketika dijelaskan bahwa konversi untuk wilayah Yogyakarta belum jelas kapan dimulai, sedikit membuatnya lega.

Bagi Murji, kata-kata konversi yang kerap didengarnya beberapa minggu terakhir memang cukup membingungkan. Kata “minyak” jelas membuatnya senang karena hasil karyanya selama ini selalu berhubungan dengan minyak tanah. Namun, kata “konversi” itu yang agak asing. “Artinya sendiri apa? Saya tidak begitu tahu. Yang saya dengar minyak akan diganti elpiji,” katanya, Kamis (30/8).

Begitulah, bagi perajin kompor yang berada di Jalan Wonosari kilometer delapan, rencana pemerintah mengganti minyak sepertinya menjadi mimpi buruk. Meski saat ini belum ada penurunan pesanan, namun kalau rencana tersebut benar-benar terealisasi, dikhawatirkan jumlah masyarakat yang akan membeli kompor pun menyusut. “Bagaimana tidak, wong gak ada minyak,” ucap Murji.

Tak sebanding
Mimpi buruk perajin kompor yang saat ini berjumlah sekitar 25 orang, sebenarnya pernah terjadi pascakrisis moneter, hampir 10 tahun silam. Melambungnya harga bahan baku tidak sebanding dengan harga jual produk.

Akibatnya, sebagian perajin putar haluan membuat barang-barang lain, seperti serok, ember, dan benda lain yang berasal dari seng bekas. Itu pun, mereka masih menghadapi tantangan persaingan dengan produk serupa dari bahan plastik.

Meski terbuat dari seng bekas, kompor buatan perajin setempat memiliki keunggulan dibanding produk yang sama buatan pabrik. Selain kualitasnya cukup kuat, harganya bisa mencapai separuh buatan pabrik. Sebut saja kompor dengan sumbu 16 buah di tingkat pedagang harganya mencapai Rp 35.000 dan kompor sumbu 50 seharga Rp 120.000.

“Setiap perajin bisa menghasilkan enam buah kompor per minggu, dengan bahan dari drum minyak, aspal, maupun kaleng oli,” kata Murji. Senada dengan Murji, Markus, perajin yang lain, berharap ada jalan keluar dari pemerintah jika nantinya konversi itu benar-benar dilaksanakan. Upaya tersebut bisa berupa pemberian keterampilan sehingga mereka dapat beralih pada usaha lain. Demikian pula akan menjadi solusi yang tepat apabila nantinya para perajin dilibatkan dalam proses konversi itu sendiri, seperti penyediaan tabung, misalnya. Siapa tahu perajin kompor ini ternyata bisa membuat tabung elpiji.

Ternyata, kegelisahan akan penggantian minyak dengan elpiji tidak hanya dirasakan perajin. Punarsih, pemilik toko yang menjual kompor produk setempat, mengaku khawatir dengan nasib para perajin.

“Saat ini, pembelian kompor memang belum ada penurunan. Setiap bulan dapat terkirim 30-100 unit ke Magelang, Srandakan, dan Wonogiri,” katanya.
Menurut Punarsih, kompor minyak telah menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat. Meski kenyataannya ada perajin yang tidak tahan banting dan beralih pada profesi lain yang lebih menjanjikan….

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: