Konversi Jangan Sampai Memicu Keresahan Sosial; Masyarakat Harus Bebas Memilih

Senin, 01 Oktober 2007

kompas-cetak66

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/01/jogja/1043057.htm

Yogyakarta, Kompas – Pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji jangan sampai membuat beban masyarakat justru semakin bertambah. Masyarakat tetap harus diberi kebebasan memilih akan menggunakan minyak tanah atau gas elpiji. “Jangan paksa masyarakat. Biarkan masyarakat memilih. Meski konversi itu nanti sudah dilakukan ketersediaan, minyak tanah tetap harus ada,” ucap Arif Rahman Hakim, Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY dalam diskusi tentang konversi minyak tanah ke gas elpiji di Gedung DPRD DIY, Sabtu (29/9).
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini, Syahbenol Hasibuan, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provinsi DIY; Manajer Gas Domestik III Jateng dan DIY PT Pertamina Kusnendar; dan Nanang Ismuhartoyo, Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta. Arif mengatakan, ketersediaan minyak tanah harus tetap dijaga karena masyarakat masih membutuhkan waktu penyesuaian.

Suplai minyak tanah diharapkan tidak seluruhnya ditarik berbarengan dengan pelaksanaan konversi. “Silakan dibagi karena program ini pada dasarnya baik, namun jangan sampai setelah konversi dilakukan masyarakat justru antre minyak tanah,” ujarnya. Dipaksakan Menurut Arif, program konversi merupakan bentuk perubahan budaya yang dipaksakan. Pihaknya memberi catatan pelaksanaan konversi jangan sampai menimbulkan kerawanan sosial. Karenanya, seluruh persyaratan teknis harus dipenuhi. Kualitas kompor gas dan tabung gas harus terjamin demi keamanan pengguna. “Masyarakat butuh pelatihan untuk penggunaan dan pemasangan.

Tidak cukup sosialisasi,” katanya. Syahbenol menuturkan, masyarakat akan bisa memilih alternatif mana yang lebih efisien dan hemat, antara minyak tanah dan gas. “Kalau ternyata lebih efisien gas, mereka akan memilih gas,” ucapnya. Kusnendar menuturkan, direncanakan berbarengan dengan pembagian paket kompor gas dan tabung gas, Pertamina akan mulai mengurangi alokasi minyak tanah dari pangkalan. Jumlah minyak tanah akan dikurangi setara gas elpiji yang mulai didistribusikan. “Sebab, kalau tidak dikurangi perkembangan konversi akan berjalan lambat,” ujarnya.

Ia menuturkan, sebelum paket perdana kompor dan tabung gas dibagikan setelah Lebaran, terlebih dulu dilakukan survei, pendataan, dan edukasi oleh konsultan independen, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta. Mereka yang mendapat paket konversi adalah rumah tangga pengguna kompor minyak tanah yang berpenghasilan maksimal Rp 1,5 juta per bulan. Pembagian paket perdana kepada warga masyarakat penerima program konversi itu dilakukan oleh tim konsultan didampingi tim konversi PT Pertamina serta pengurus RT/RW setempat. “Untuk membantu masyarakat, nanti akan dibentuk Posko Pelayanan Informasi di setiap kelurahan,” katanya. (RWN)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: