Konversi Energi; Perubahan Tak Semudah Membalikkan Tangan

Agni Rahadyanti dan Yoga Putra
Jumat, 31 Agustus 2007

kompas-cetak43

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/jogja/1041765.htm

Biarpun dapat kompor gas gratis dari pemerintah, saya tetap enggak mau memakainya. Takut!” kata Ny Teguh (55), Kamis (30/8). Sembari mengemasi barang dagangannya yang digelar di halaman Kantor DPRD Sleman, ia lalu bercerita tentang ketakutan itu.

Beberapa tahun lalu anak dan adik Ny Teguh meninggal akibat kebakaran dari ledakan kompor gas di rumah mereka. “Yang saya tahu, kompor meledak karena selangnya bocor. Sejak saat itu saya takut memakai kompor gas,” ungkapnya.

Karena itu, ia tak tertarik dengan program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang sedang dirintis pemerintah pusat di beberapa daerah. Kalaupun pemerintah mengajarkan penggunaan kompor gas seiring pemberian kompor tersebut, Ny Teguh tetap khawatir tidak dapat mengoperasikan dengan baik. Alasannya sederhana, ia tidak terbiasa.

Kompor gas yang ia peroleh ketika memenangi sebuah undian pun tidak pernah dipakai sampai saat ini. Warga Beran Kidul, Tridadi, Sleman, itu lebih memilih untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar. Menurutnya, kayu bakar bisa menghemat pengeluaran tiap hari. Ia tak pernah membeli kayu karena bahan bakar tersebut masih dapat dengan mudah ditemukan di sekitar rumahnya. Ia hanya perlu membeli seliter minyak tanah yang digunakan untuk menyalakan api selama lebih kurang 10 hari.

Lain halnya dengan Siti Wahyuningsih (29), ia tak akan menolak jika pemerintah memberikan kompor gas beserta tabung gas secara gratis. Ia menghitung, mengeluarkan Rp 12.500 tiap dua minggu sekali untuk membeli tiga kilogram gas elpiji dirasa lebih irit dibandingkan dengan pengeluarannya untuk membeli minyak tanah selama ini.

Untuk memenuhi kebutuhan memasak, ibu satu anak itu umumnya memerlukan 1-2 liter minyak tanah tiap hari. Jika harga minyak tanah saat ini Rp 2.600 per liter, maka dalam satu bulan minimal ia harus mengeluarkan Rp 78.000 untuk membeli 30 liter minyak tanah.

“Jika satu bulan hanya menghabiskan dua tabung gas isi tiga kilogram, pengeluaran hanya Rp 25.000. Dari sisi ekonomi, memang lebih hemat pakai kompor gas,” tutur warga Pangukan, Tridadi, Sleman, itu.

Walau begitu, mengeluarkan uang Rp 12.500 bukanlah perkara yang mudah bagi setiap orang. “Pakai kompor gas harus sedia duit banyak karena tidak bisa dibeli eceran seperti minyak tanah,” ungkap Rusmiyati (53). Karenanya, ia tetap memilih kompor minyak tanah untuk memasak karena tidak perlu bingung jika sedang tak punya uang banyak.

Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DI Yogyakarta Siswanto menambahkan, seharusnya pemerintah pusat dan daerah mempertimbangkan kekhawatiran warga dalam proses pelaksanaan konversi minyak tanah yang akan dilakukan di DIY, awal 2008. Tak hanya itu, perlu juga dipikirkan dampak konversi terhadap para agen minyak tanah dan gas.

“Jika memang suplai minyak tanah dikurangi, maka agen mau tidak mau harus beralih ke penjualan gas. Artinya, mereka harus mengeluarkan modal lebih banyak untuk membeli tabung-tabung gas yang akan ditukar oleh masyarakat. Ini tentu menyulitkan karena harga satu tabung gas ukuran tiga kilogram mencapai Rp 128.000,” ujar Siswanto.

Ini masih belum termasuk kekhawatiran agen dan warga akan kelancaran suplai gas. Padahal, untuk saat ini saja suplai gas acap kali tersendat. Jika masalah ini sampai terjadi saat proses konversi tersebut berlangsung maka akan timbul kekacauan ekonomi yang merugikan masyarakat.

Siswanto mencontohkan, jika suplai gas macet, sementara kebutuhan bahan bakar rumah tangga tetap tinggi, masyarakat tentu akan kembali ke minyak tanah. Padahal, saat konversi terjadi, pasokan minyak tanah otomatis berkurang sehingga yang terjadi adalah kelangkaan bahan bakar dan kenaikan harga.

Untuk itu, ia pun menyarankan agar pemerintah daerah benar-benar memanfaatkan waktu yang masih tersisa hingga awal 2008 sebagai masa sosialisasi. Tidak sekadar memberi pendampingan dan penyuluhan, sosialisasi juga harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa gas dan kompornya adalah teknologi yang aman, dan ketersediaan suplai gas di masa depan akan dijamin.

Masalah konversi minyak tanah ke gas sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai pengalihan penggunaan energi, namun juga pengubahan kebiasaan hidup sehingga perlu disadari proses itu akan butuh waktu yang cukup lama dan penuh tantangan, jadi tidak sesingkat dan semudah membalikkan telapak tangan.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: