Kenaikan Harga Elpiji Dinilai Akan Jadi Beban Baru Pengusaha; Kalangan Perhotelan Keberatan

M Syaifullah
Jumat, 31 Agustus 2007

kompas-cetak46

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/jogja/1041775.htm

Yogyakarta, Kompas – Kalangan perhotelan di DI Yogyakarta menilai kebijakan Pertamina menaikkan harga elpiji tabung 50 kilogram akan memberatkan biaya operasional usaha mereka. Kenaikan harga gas itu semestinya dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan usaha sektor jasa pariwisata ini.

Deddy Pranomo, pemilik Hotel Ruba Graha Yogyakarta, Kamis (30/8), mengatakan kalau mau menaikkan harga gas elpiji semestinya lihat dulu kemampuan berbagai sektor usaha dalam membelinya. Kondisi bisnis perhotelan di Yogyakarta, misalnya, saat ini baru mulai bangkit setelah terjadi gempa tahun 2006.

PT Pertamina berencana menaikkan harga elpiji dalam tabung 50 kilogram mulai 1 September ini. Harga baru elpiji tersebut sebesar Rp 6.200 per kilogram atau naik 47 persen dari Rp 4.250 per kilogram.

Untuk memulihkan kegiatan usaha ini, katanya, butuh biaya besar, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pasokan elpiji, seperti memasak dan pemanas air. “Kebutuhan elpiji bagi hotel itu hal yang utama.

Jadi, kalau terjadi kenaikan yang mencapai 47 persen itu sangat berpengaruh dalam operasional perhotelan,” ujar Deddy, yang juga pemimpin Keluarga Public Relations (Kapurel) Yogyakarta.

Menurut Deddy, kalaupun Pertamina ingin menaikkan harga, sebaiknya lakukan secara bertahap. Dengan cara itu, kalangan perhotelan akan menyesuaikan secara bertahap pula. “Hotel yang saya kelola saja setiap bulan paling sedikit membutuhkan lima tabung dengan isi masing-masing 50 kilogram untuk masak. Ini belum untuk pemanas,” tuturnya.

Berjuang
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yogyakarta Istijab M Danunegoro mengatakan usaha perhotelan di DI Yogyakarta saat ini masih berjuang mengatasi turunnya kedatangan jumlah wisatawan, khusus dari Eropa. Hal ini terjadi akibat adanya larangan penerbangan Indonesia keluar masuk Eropa dan melarang masyarakat Uni Eropa menggunakan penerbangan domestik Indonesia.

“Padahal, wisatawan Eropa itu merupakan wisatawan asing paling banyak datang ke Yogyakarta. Sekarang, turun hingga 20 persen dari kunjungan setiap tahun sekitar 100.000 wisatawan,” katanya.

Para wisatawan mancanegara ini sendiri selama ini datang memakai penerbangan pesawat domestik. Hal itu terjadi karena tidak ada penerbangan langsung dari luar negeri ke kota budaya ini. “Akibat adanya larangan tersebut, banyak wisatawan asing menggunakan jalan darat,” katanya.

Menurut Istijab, kegairahan usaha perhotelan di Yogyakarta sendiri saat ini baru bangkit kembali. Sampai 2005, usaha perhotelan DI Yogyakarta untuk hotel berbintang ada 37 buah dengan jumlah kamar 3.460 buah dan 5.706 buah. Sementara, hotel nonbintang termasuk pondok wisata dan penginapan untuk remaja mencapai 1.086 buah.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: