Kebudayaan di Antara Pasar dan Piazza

Jakarta, Rabu, 18 April 2007

jurnas4

http://www.jurnalnasional.com/new2/?KR=JURNAS&NID=26826

Pasar sebenarnya bukan hanya soal ekonomi semata. Pasar sendiri mulanya adalah ruang pertemuan polis atau kota kecil di zaman Yunani Kuno. Di dalamnya tercakup kegiatan ekonomi, kegiatan pengajaran bahkan pertunjukan seni. Pasar, menjadi fondasi kebudayaan tempat warga menjadi menjadi kartasis atau saling menyapa. “Pasar benar-benar sebagai tempat untuk saling mencukupi kebutuhan, baik barang maupun jiwa,” kata Mudji Sutrisno, Pakar Filsafat dari Sekolah Tinggi filsafat Dryarkara.

Melalui pasar, penduduk polis menjalani hidup bersama, selain saling melempar unek-unek. Acara pertemuan ini akhirnya menjadi suatu kebutuhan tersendiri. Pada perkembangan selanjutnya terbentuk piazza (jalan besar) tempar warga berkumpul usai bekerja untuk duduk-duduk dan membahas pertanyaan tentang kehidupan.

Acara duduk-duduk ini bukannya tanpa hasil, Socrates sebagai guru besar pada zaman itu memperkenalkan gaya pengajarannya melalui ruang pertemuan ini. Ia membiarkan seseorang yang datang dengan pertanyaan, merenungkannya selama di piazza dan akhirnya menemukan sendiri jawaban yang dicari. Seringkali acara piazza ini disertai dengan pertunjukan dari para seniman setempat.

Fragmentasi piazza juga berkembang di bagian Eropa lainnya. Prancis misalnya, kini mengadopsi piazza sebagai kegiatan duduk-duduk di café sambil berdiskusi filsafat. Kegiatan ini begitu dekat dengan rakyat hingga mampu menggerakkan revolusi. Sejarah menyatat revolusi Prancis tahun 1789 hingga 1799 digerakkan oleh para seniman yang berorasi di café-café. Kebudayaan polis ini menurut Mudji, terbukti menjadi asal mula politik yang memberikan peluang rakyat untuk berkontribusi.

Indonesia turut mengadopsi budaya Yunani kuno ini, walau akhirnya salah kaprah. Kegiatan pasar diartikan sebagai kegiatan ekonomi semata. Sementara piazza diidentifikasikan sebagai kegiatan kongko-kongko di café. Menurut Mudji, pada akhirnya kegiatan piazza di Indonesia berkembang dalam bentuk mal-mal yang hadir di berbagai sudut kota Jakarta. Salah satu mall di daerah Kelapa Gading bahkan menyadur piazza sebagai nama.

Salah kaprah ini terjadi tidak tiba-tiba. Menurut Mudji, pasar di Indonesia telah mengalami tiga tahap perkembangan sejak kemerdekaan. Pertama, pasar pada masa demokrasi terpimpin dengan kebijakan Soekarno “Right or Wrong is My Country”. Pada masa ini pasar masih dikembalikan pada kekuatan rakyat hingga pasar tradisional tumbuh subur. Kedua, demokrasi Orde Baru. Perlahan pasar mulai diambil alih oleh investor big market. Termasuk di dalamnya para investor asing.

“Pasar di Indonesia sekarang ini telah memasuki tahap ketiga dengan menjadi neo-liberalisme kapitalis,” katanya.

Kapitalis dalam arti negara tidak boleh ikut campur dalam kegiatan ekonomi. Sebagai akibatnya, perekonomian dikendalikan oleh pemegang saham besar. Bukti nyata dari fenomena ini menurut Mudji terlihat nyata dalam proses penggusuran pasar tradisional oleh pasar-pasar modern saat ini.

Bagai gajah berkelahi dengan gajah, dan pelanduk mati di tengah-tengah. Demikian kondisi pasar di Indonesia saat ini. “Pemerintah sebaiknya tegas mengambil kebijakan melindungi para pedagang kecil dan tradisional dengan undang-undang yang membatasi penanaman modal,” tegas Mudji. Secara jelas ia mengritisi fenomena penggusuran pedagang-pedagang kaki lima, dan kesan pemerintah ‘membiarkan’ pendirian mal-mal di Jakarta. (Veby Mega )

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: