Heboh Minyak Tanah dan Gas

YF LA KAHIJA
Sabtu, 25 Agustus 2007
kompas-cetak31
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/25/opini/3785701.htm

Masalah konversi minyak tanah ke gas mengungkap keretakan relasional antara pemerintah dan rakyat. Di satu sisi, empati pemerintah pada rakyat kian terkikis. Di sisi lain, kepercayaan rakyat kecil terkait kepedulian pemerintah merosot tajam.

Implementasi konversi minyak tanah menjadi gas LPG, mungkin bisa dianggap pemerintah sebagai strategi jitu dalam mengurangi subsidi BBM. Sayang, penerapannya tergesa-gesa, instan, dan sedikit memaksa. Tahapan alamiah bagi perubahan sikap dan perilaku dipersingkat demi akselerasi program.

Hasilnya, rakyat merasa tidak dimengerti dan diabaikan karena dicabut dari konteks kehidupan mereka. Kondisi ini mendorong reaksi penolakan. Memang, ada alasan-alasan rasional penolakan, seperti keiritan, buruknya kualitas kompor, atau takut meledak. Namun bila dicermati, itu adalah suara pedih mereka.

Protes atas protes akan terus terjadi bila masalah tidak diurai secara bottom-up. Akan sulit mengharap keberhasilan program konversi bila rakyat menganggap diri “kecil”, sedangkan pemerintah dinilai opresif dan tidak peduli. Gejala-gejala ini memang tidak tampak, tetapi hadir sebagai salient belief (kepercayaan terselubung) yang mengarahkan sikap mereka.

Namun, nuansa itu tampaknya belum dimengerti. Pemerintah ngotot menjalankan visinya. Padahal secara psikologis, perubahan sikap tidak semudah itu karena dibutuhkan persiapan dan sentuhan bertahap untuk persepsi, opini, kepercayaan, nilai, dan kebiasaan yang mendasari pilihan rakyat untuk tetap menggunakan minyak tanah.

Menghargai proses
Pada awal 1980-an James Prochaska dan Carlo DiClemente memperkenalkan konsep SCM (Stages of Change Model) untuk memahami perubahan perilaku. Meski penerapannya bersifat individual, prosedurya dapat ditarik ke dalam konteks sosial. Kedua pakar ini melihat perubahan perilaku sebagai proses yang meliputi lima tahap, yaitu prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, dan pemeliharaan.

Pada tahap prakontemplasi, orang tidak merasa perlu berubah. Pada tahap kontemplasi, mulai ada keinginan melihat efek negatif dari kebiasaan atau perilaku yang dipertahankan. Meski demikian, tetap ada keraguan. Pada tahap persiapan, muncul keinginan untuk berubah. Bila ketiga tahap awal ini sudah dilalui, perubahan perilaku akan lebih mudah dicapai. Tahap-tahap itu kembali menegaskan tidak relevannya pendekatan instan dan pragmatis. Perubahan yang bertahan lama adalah efek dari meningkatnya kesadaran (consciousness rising), bukan desakan eksternal. Kesadaran inilah yang lebih dulu diupayakan lewat sosialisasi empatetik bertahap.

Reaktans bagi koersi
Fenomena lain yang tampak dalam kebijakan konversi adalah implementasi yang memaksakan (coercive). Strategi ini akan merusak kepercayaan yang kian rapuh. Dalam persepsi rakyat kecil, minyak tanah adalah bahan bakar mereka dan gas dianggap bagian hidup orang berada.

Bila pemerintah tetap pada pendekatan koersif, rakyat kecil bisa menunjukkan perubahan sikap yang negatif (negative attitude change). Lebih jauh, dampak sosial-politisnya adalah kemerosotan drastis kepercayaan, yang pada gilirannya berdampak pada frustrasi lebih jauh yang potensial berbuah anarki.

Merombak skema kognitif masyarakat menuntut teknik persuasif yang lebih sesuai. Ada faktor sosio-kultural yang perlu dipertimbangkan agar gejolak sosial bisa diredam. Kegagalan melihat bahaya inilah yang menimbulkan demonstrasi berujung ricuh pada 6 Agustus 2007 di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta Utara.

Seperti dikondisikan dalam skema kognitif kita, kericuhan selalu dilatarbelakangi provokasi. Konon, dengan mengamankan provokator, situasi bakal normal. Ini menunjukkan, pemecahan masalah masih terbatas faktor pencetus (precipitating factor), sementara faktor pendahulunya (predisposing factors) dibiarkan menjadi bibit-bibit anarki pada masa datang.

Anarki dan sikap bermusuhan bermula dari rasa tidak percaya, tidak adil, dan miskomunikasi. Pemerintah perlu mengintrospeksikan potensi destruktif ini karena hampir pasti akan memunculkan reaktans, yaitu reaksi negatif atau tidak menyenangkan terhadap aturan yang dicirikan dengan niat yang kian kuat untuk menentang.

Sinkroni interaksional
Upaya ideal untuk menjaga kepercayaan adalah menciptakan sinkroni interaksional antara pemerintah dan rakyat kecil. Sinkroni interaksional adalah kepekaan menangkap ekspresi fisik dan emosional dari orang lain sebagai cerminan pemikiran dan perasaannya. Bila tercapai, muncul le rapport (Perancis, saling pemahaman lewat empati).

Untuk itu, ada dua pendekatan persuasif yang bisa digunakan. Pertama, orang akan lebih mudah dipersuasi bila pesan yang disampaikan tidak dimaksudkan untuk memanipulasi mereka. Karena itu, dibutuhkan penjelasan dan niat serius pemerintah untuk menjalankan program dan janjinya. Jika tidak ada perubahan perilaku, akan gagal di tengah jalan.

Kedua, saat rakyat memiliki keyakinan yang bertentangan dengan yang diinginkan pemerintah, pemerintah sebaiknya mampu menyosialisasikan rencananya dengan memberi penjelasan dari dua sisi, baik kompor gas maupun minyak tanah. Dengan begitu, rakyat tetap diberi peluang membuat pilihan rasional.

Dalam proses itu, kepercayaan menjadi sentral. Seseorang pernah mengingatkan agar berhati-hati dengan teman saya. Ia menceritakan bagaimana berkali-kali dibohongi. Suatu saat, saya mengatakan, teman saya tampaknya sudah berubah. Ia tidak percaya. Menurut dia, perubahan itu hanya manipulasi.

Gejolak psikologis serupa tampaknya mendasari kecurigaan, resistensi, protes, dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah untuk mengonversi minyak tanah menjadi gas. Semuanya tumbuh sebagai bibit-bibit ketidakpercayaan dalam ketidaksadaran. Inilah yang harus diluluhkan lebih dulu demi perbaikan yang berpihak kepada rakyat.
YF La Kahija Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: