Hati-hati Garap RPP Pasar Modern; Perlu Zona untuk Lindungi Pedagang Pasar Tradisional

Selasa, 20 Maret 2007

kompas-cetak97

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/20/ekonomi/3396296.htm

Jakarta, Kompas – Penggarapan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penataan dan Pembinaan Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern perlu disikapi dengan kehati-hatian. Sebab itu, zona pengaturan lokasi usaha harus menjadi titik perhatian pemerintah agar tidak merugikan pedagang pasar tradisional.

Demikian topik bahasan yang disampaikan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Mohammad Iqbal dan Direktur Kebijakan Persaingan KPPU Taufik Ahmad dalam pemaparan “Saran dan Pertimbangan KPPU kepada Pemerintah soal Industri Ritel di Tanah Air”, akhir pekan lalu di Jakarta.

Menurut Iqbal, sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU berperan sebagai penegak hukum persaingan usaha dan juga berperan memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah.

Hampir setiap kasus yang dilaporkan kepada KPPU selalu persoalan persaingan usaha tidak sehat. Ritel modern yang tumbuh pesat akhir-akhir ini di satu sisi membawa dampak positif, tetapi di sisi lain juga dampak sosial ekonominya sangat besar. Dalam arti, pertumbuhan ritel modern membawa implikasi tersingkirnya ritel tradisional yang umumnya usaha kecil.

Selain itu, juga muncul fenomena bahwa peritel modern hadir sebagai kekuatan yang punya potensi untuk mengeksploitasi pemasok. Akibatnya, pemasok yang posisinya pemilik modal tak punya posisi tawar yang kuat. Mau atau tidak mau, mereka harus mengikuti persyaratan yang ditentukan pemilik ritel modern yang tidak menguntungkan, wajib listing fee, biaya promosi, dan berbagai pengeluaran lainnya.

Kompleksitas masalah
Penyelesaian persoalan ini sangat rumit mengingat industri ritel di Indonesia mampu menampung 18,9 juta pekerja atau kedua terbesar setelah sektor pertanian yang mencapai jumlah tenaga kerja 48,1 juta orang. Gampangnya, dari 22,7 juta jumlah usaha di Indonesia, 10,3 juta atau 45 persennya merupakan usaha ritel.
Oleh sebab itu, kata Taufik Ahmad, untuk menjembatani persoalan itu, pemerintah melakukan pengaturan dalam bentuk peraturan pemerintah (PP). Harapannya, dengan PP itu ritel usaha kecil bisa dilindungi.

Dalam pandangan KPPU, peritel tumbuh menjadi kekuatan besar dengan market power (kekuatan pasar) yang mampu mendikte pemasok. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan daya tawar antara peritel dan pemasok.

Taufik menyebut, potensi persaingan usaha tidak sehat dapat muncul dalam bentuk penyalahgunaan kekuatan pasar. Hal ini, antara lain, muncul dalam trading term antara peritel dan pemasok. Kasus-kasus hipermarket asing menjadi bukti yang terjadi di Indonesia.

Contoh konkret adalah hancurnya pasar tradisional di Bangkok. Tahun 1995 Bangkok mulai terbuka bagi ritel hipermarket asing yang masuk dengan dalih segmen pasarnya berbeda dengan peritel pasar tradisional.

Dalam kurun waktu 10 tahun kemudian, pasar tradisional mereka dari 20 menciut menjadi 2 pasar. Di sisi lain, hipermarket terus bertumbuh.

Pemerintah Thailand gerah melihat masalah itu. Mereka lalu memberlakukan UU Ritel. Dengan adanya UU itu, Bangkok kini memiliki zona perdagangan eceran yang dilindungi oleh pemerintah.

Menurut Taufik, KPPU tidak ingin masuk ke perumusan substansi pengaturan pasar modern. Sebagai pertimbangan, KPPU ingin menegaskan kembali upaya-upaya perlindungan usaha kecil dan tradisional serta perlindungan terhadap pemasok ritel modern.
KPPU mengharapkan substansi pengaturan memerhatikan potensi-potensi negatif terjadinya persaingan usaha tidak sehat, sebagaimana diatur dalam UU No 5/1999. (OSA)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: