Gema Lirih Pasar Tradisional

Jumat, 26 Januari 2007

kompas-cetak88

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/26/sorotan/3266501.htm

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran
Tanah Jawa kalungan wesi
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang
Kali ilang kedhunge
Pasar ilang kumandhange
Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak

(Besok ketika sudah ada kereta tanpa kuda/Tanah Jawa berkalung besi/Kereta berjalan di awan/Pasar hilang keramaiannya/Itulah tanda-tanda zaman Jayabaya sudah dekat)

Ramalan Raja Kediri, Jayabaya, yang memerintah pada tahun 1130-1157, lahir pada masa keemasan perkembangan sastra Jawa Kuno. Ramalan itu dipercaya menggambarkan perubahan sosial ekonomi masyarakat Indonesia ke depan.
Zaman Jayabaya ditandai oleh terjadinya perubahan nilai sosial dan ekonomi masyarakat yang drastis. Dalam ramalan Jayabaya, perubahan ekonomi digambarkan dengan terciptanya kereta api dan pesawat terbang. Perubahan sosial, ditengarai tersingkirnya pasar tradisional oleh pasar modern.

Apakah sekarang sudah zaman Jayabaya? Tak seorang pun tahu. Yang jelas, pasar tradisional saat ini memang mulai kehilangan gaungnya. Tergusur oleh pasar modern yang menawarkan seribu satu kenyamanan. Dari bangunan yang bersih dan modern hingga lebih sistematis dan praktis.

Penelitian AC Nielsen pada Oktober 2005 (Kompas, 4/8) menunjukkan bahwa selama 2005 pertumbuhan pasar tradisional di Indonesia minus delapan persen. Sebaliknya pertumbuhan pasar modern mencapai 31,4 persen. Sayang, angka-angka ini tidak bisa menunjukkan adanya nilai-nilai kehidupan komunal yang terancam punah seiring lenyapnya pasar tradisional.

Riwayat pasar
Pasar tradisional merupakan pranata penting dalam masyarakat pada zaman Mataram Kuno. Dalam buku Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi tulisan Titi Surti Nastiti (2003), peranan pasar disebut tidak terbatas dalam kegiatan ekonomi saja, tetapi juga membentuk interaksi sosial dan komunikasi masyarakatnya.

Pada zaman sekarang, peran Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) di kawasan Jakarta Timur, misalnya, ternyata tak jauh beda. Sebagai sentra perdagangan sayuran dan buah-buahan di Pulau Jawa, PIKJ adalah salah satu pusat komunikasi dan interaksi bagi masyarakat dari berbagai daerah.

Keakraban pembeli dan penjual yang saling kenal masih mewarnai hari-hari di Kramat Jati. Haji Menot, pedagang kol di PIKJ, selalu menyapa dan menanyakan kabar pelanggan yang sedang membeli kol di kiosnya. Tawar-menawar tetap jalan, tetapi penjual dan pembeli bisa saling mengundang jika ada hajatan, bahkan berpikiran untuk saling berbesan.

“Enaknya kalau belanja di pasar tidak hanya dapat diskon, utang juga boleh. Asal sudah saling kenal dan dipercaya,” kata Sumi’ah, pedagang bakmi di Kampung Melayu, saat berbelanja di PIKJ.

Terjalinnya kepercayaan di PIKJ tak sekadar memberi utang. Ada semangat gotong royong dan saling menolong. Jika ada kawan atau juragan yang mempunyai hajatan, seperti menikahkan anak dan melahirkan, penghuni pasar pasti menyempatkan datang.

Itu juga yang tercermin dalam keseharian Ny Jony (45) sebagai pembeli, dan sejumlah pedagang di PIKJ. Saat menikahkan anak pertamanya, Nirmala (27), Ny Jony mengundang semua pedagang langganannya. “Mereka semua seperti saudara,” katanya.

Bahkan, ia yang akrab dipanggil Bu Jony ini kerap menjadi tempat curhat (mencurahkan isi hati) pedagang langganannya. Ada Cames (55), Supirah (40), dan Kusmini (42). Dari masalah anak dan keluarga hingga utang.

Bagi Bu Jony, tidak ada yang memalukan menceritakan hal-hal seperti itu. Semuanya seperti keluarga, saling terbuka dan membutuhkan satu sama lain.
Sebaliknya, perempuan yang tinggal di daerah Lubang Buaya itu mengakui, kalau tidak punya uang, dia pun meminjam kepada pedagang langganannya. Begitu ada uang, utang dilunasinya.

Patungan memberi
Status pembeli, penjual, juragan, dan kuli juga mencair ketika salah satu di antara mereka sakit atau meninggal. Penghuni pasar rela berpatungan sekadarnya, termasuk membawa anggota yang sakit berobat.

“Kami sudah seperti saudara, jadi tak mungkin satu sakit yang lain diam saja,” kata Sunarto, Ketua Forum Keluarga Besar Semarang (FKBS).

Sunarto mengakui paguyubannya lebih banyak bergerak di bidang sosial, misalnya membantu mencarikan pekerjaan di PIKJ bagi anggota baru yang menganggur.
Hubungan antarindividu dari berbagai suku di PIKJ juga menciptakan ikatan sosial yang kuat. Interaksi itu ternyata bisa menjembatani pertukaran budaya sekaligus memperkaya keterampilan berbahasa daerah. Contohnya Ikin (26), pedagang kol dan tomat di Blok H yang menguasai bahasa Jawa, Batak, Minang, dan Sunda.

Kondisi yang tampaknya sulit dijumpai di pasar modern, di mana semua tersedia di rak lengkap dengan harganya. Namun, ada juga yang lebih suka ke pasar modern karena minimnya komunikasi justru dirasa menguntungkan.

“Di pasar modern saya bisa mengajak anak-anak. Tidak khawatir anak-anak terpisah dari saya,” tutur Yuni (38), saat ditemui di Carrefour Plaza Ambasador. Baginya, tanpa banyak bicara waktu belanjanya bisa semakin hemat. Pilihan tentu saja tergantung kebutuhan masing-masing orang, seperti keinginan untuk serba cepat dan mudah atau menjalin persahabatan dan rasa kekeluargaan.

Maka, peribahasa Jawa tuna satak bathi sanak, artinya lebih baik rugi uang daripada kehilangan teman, mungkin memang hanya berlaku bagi mereka yang berinteraksi di pasar tradisional. (ANG/MHD/LIA/NIT)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: