Gejolak Pasar dan Manajemen Risiko

Mirza Adityaswara, Analis Perbankan dan Pasar Modal
Senin, 28 Januari 2008

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=321450&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2=

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan dunia semakin hari semakin memengaruhi hidup masyarakat Indonesia. Yang dimaksud dengan pasar keuangan dunia tidak hanya menyangkut fluktuasi harga saham dan valuta asing, tetapi juga fluktuasi harga komoditas tambang dan komoditas pangan.

Apabila yang naik turun adalah kurs valuta asing dan harga saham maka dampaknya tidak langsung terasa di masyarakat karena lebih menyangkut dunianya para bankir, perusahaan sekuritas, perusahaan emiten, investor pasar modal, pengelola dana pensiun, reksa dana, dan asuransi. Tetapi, baru kali inilah terjadi harga komoditas tambang, energi, dan komoditas pangan naik secara bersamaan sehingga dampak ekonomi dan sosial dari fenomena ini perlu kita waspadai. Ini semua menyangkut manajemen risiko anggaran pemerintah, manajemen risiko Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan dan manajemen risiko perusahaan.

Pada 2007 harga minyak bumi naik 60 persen menjadi 96 dolar AS/barel, harga batubara naik 73 persen menjadi 89 dolar AS/ton, harga kedelai naik 67 persen, harga gandum naik 90 persen, harga jagung naik 21 persen, dan harga emas naik 30 persen. Daftar ini akan semakin panjang jika kita masukkan indeks ongkos angkut kapal barang komoditas (Baltic Dry index) yang naik 107 persen berhubung dengan harga komoditas yang diangkutnya telah naik signifikan.

Akibat dari kenaikan harga komoditas energi maka harga BBM nonsubsidi, seperti BBM industri dan batubara juga ikut naik secara drastis yang akhirnya membebani perusahaan manufaktur di Indonesia. Dari sisi makroekonomi, agar harga BBM bersubsidi tidak naik (minyak tanah, bensin premium, dan solar) maka pengeluaran nonprioritas harus dikurangi demi terjaganya defisit APBN maksimum 1,7 persen PDB karena angka ini selalu dipantau oleh investor dan kreditur pemerintah.

Naiknya harga bahan baku komoditas pangan membuat harga minyak goreng, tepung terigu, tempe, gula, jagung ikut pula naik sehingga berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat. Terutama masyarakat berpenghasilan rendah yang merupakan sebagian besar dari masyarakat Indonesia.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di pasar keuangan dunia sehingga membuat hidup kita semakin banyak tantangan? Ada lima hal struktural yang sedang terjadi di dunia, yaitu 1) dijadikannya komoditas tambang dan pertanian sebagai instrumen investasi, 2) pertumbuhan ekonomi yang pesat di Cina dan India, 3) diversifikasi energi dari minyak bumi pada bahan bakar jenis lain, 4) usaha mengurangi efek pemanasan global, dan 5) pelemahan ekonomi AS.

Investasi berkembang
Instrumen investasi saat ini bukan hanya tabungan, saham, obligasi, dan valuta asing, tetapi juga komoditas tambang dan komoditas pertanian. Pesatnya pertumbuhan ekonomi dunia negara maju dan negara sedang berkembang, seperti Cina dan India membuat permintaan terhadap bahan bakar energi melonjak dalam lima tahun terakhir. Tetapi, naiknya permintaan minyak tak hanya disebabkan oleh ‘permintaan nyata’ tetapi juga didorong oleh ‘permintaan spekulasi’ dari para investor keuangan berskala global.

Naiknya harga bahan bakar minyak diperparah dengan ketegangan geopolitik akibat invasi AS di Irak dan hubungan yang tidak harmonis antara AS dan negara produsen minyak lain, seperti Iran dan Venezuela. Akibatnya, dicarilah sumber energi lain, seperti batubara dan gas sehingga harga kedua komoditas ini pun ikut naik yang pada akhirnya membengkakkan biaya pembangkit listrik dan biaya perusahaan manufaktur pemakai batubara dan gas.

Adanya keinginan untuk melakukan diversifikasi energi dan juga keinginan mengurangi efek pemanasan global maka dicarilah energi dari sumber yang terbarukan, termasuk yang berasal dari komoditas pertanian. Maka berlomba-lombalah investor mencari bahan baku untuk membuat biofuel dan biodiesel, seperti kelapa sawit, kedelai, jagung, tebu, dan gandum. Akibatnya, harga pangan dunia ikut naik secara signifikan.

Sebenarnya ada sesuatu yang salah dari usaha diversifikasi ini. Dunia berusaha mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, tetapi dengan melakukan diversifikasi kepada sumber energi berasal dari komoditas pangan. Akibatnya, harga pangan naik. Tentu saja bagi perusahaan batubara, petani produsen, dan pedagang kelapa sawit, jagung, tebu, kedelai, gandum, sekarang adalah masa yang paling indah karena pendapatan mereka naik pesat. Maka tidak heran wilayah luar Jawa sebagai penghasil barang tambang dan kelapa sawit saat ini sedang menikmati masa jaya.

Diversifikasi nonpangan
Harusnya yang dilakukan oleh dunia adalah diversifikasi kepada energi yang berasal dari bahan nonpangan, seperti energi air, energi angin, energi panas bumi, energi gas, energi matahari, atau buah pohon jarak. Pemerintah harus menyediakan insentif untuk terjadinya investasi di bidang ini. Insentif diperlukan untuk riset, investasi dan pemakaian sumber energi tersebut. Selanjutnya pemerintah harus mewajibkan kepada pembangkit listrik, pabrik dan alat transportasi menggunakan sumber energi tersebut.

Pelemahan ekonomi Amerika yang berawal dari krisis kredit perumahan (krisis sub-prime mortgage) akan menurunkan permintaan terhadap bahan bakar minyak sehingga harga minyak dan substitusinya diperkirakan akan ikut menurun. Tetapi, harga minyak dan substitusinya (batubara, kelapa sawit, dan sebagainya) hanya akan melemah untuk sementara waktu karena akan naik kembali ketika ekonomi Amerika mulai membaik pada 2009. Maka dari itu, diversifikasi energi mau tidak mau harus kita lakukan segera.

Kekurangan kecukupan bahan pangan, seperti beras, gandum, kedelai, gula, suka tidak suka untuk sementara waktu harus dipenuhi melalui impor. Perlu disadari dengan dilakukan impor, harga di pasar domestik tetap tidak akan turun selama harga internasional belum turun. Namun, paling tidak ketersediaan barang lebih bisa terjamin. Dibukanya kran impor jangan membuat kita terlena seperti selama ini. Sebagai negara agraris harusnya kita sanggup membangun sektor perkebunan bahan pangan sehingga kita bisa mandiri.

Di bidang mikro, penguatan manajemen risiko sangat penting dilakukan karena kondisi pasar keuangan saat ini sangat tidak bisa diprediksi. Pelemahan ekonomi Amerika yang berawal dari krisis kredit sub-prime telah memakan korban kerugian di bank-bank internasional, seperti Citigroup, UBS, dan Merril Lynch.
Pasar obligasi rupiah saat ini masih stabil, bahkan kurs rupiah sedikit menguat, tetapi pasar saham jatuh lima persen dibandingkan awal tahun. Beberapa saham bahkan harganya jatuh lebih dari 10 persen. Perusahaan sekuritas ritel harus melakukan analisis terhadap kemampuan bayar nasabahnya. Perbankan sebaiknya meningkatkan kehati-hatian terhadap penyaluran kredit properti, kredit kepada debitur yang berorientasi ekspor ke pasar AS, kredit valuta asing, dan penerbitan surat utang.

Ikhtisar:
– Pemerintah harus menyediakan insentif investasi diversifikasi energi nonpangan.
– Kondisi pasar keuangan saat ini sangat tidak bisa diprediksi.
– Impor harus bisa dikendalikan.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: