Energi untuk Kaum Miskin

ZAINAL ALIMUSLIM HIDAYAT
Senin, 10 September 2007

kompas-cetak56

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/10/ekonomi/3818566.htm

Di tengah berbagai penolakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan program konversi minyak tanah ke elpiji akan tetap dijalankan. Menurut Wapres, jika berhasil, program konversi akan menguntungkan pemerintah dan konsumen (warga). Pemerintah bisa menghemat subsidi bahan bakar minyak senilai Rp 22 triliun per tahun, sedangkan tiap keluarga bisa menghemat belanja senilai Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per bulan (Antara, 13/8).

Pernyataan Wapres menjadi indikasi kuat bahwa sejak awal perhatian pemerintah memang hanya terfokus pada besaran subsidi. Yang diutamakan sebatas akselerasi program dan secepat mungkin menarik minyak tanah bersubsidi. Akibatnya, penyediaan energi untuk kaum miskin direduksi menjadi sebatas masalah fuel switching yang dihipotesiskan akan selesai dengan membagikan kompor dan tabung gas gratis.

Pemerintah menargetkan program konversi selesai dalam empat tahun, padahal di banyak negara transisi ke energi yang lebih modern memerlukan waktu hingga puluhan tahun. Di Amerika Serikat, misalnya, diperlukan hampir 70 tahun (1850-1920) dan di Korea waktu yang dibutuhkan hanya 30 tahun (1950-80) akibat adanya kemajuan teknologi (Barnes, Flas, dan Floor, 1997). Penduduk Brasil yang menggunakan elpiji sebanyak 16 persen pada 1960 menjadi 78 persen pada 1985, dan hampir semuanya pada 2004 (UN Millennium Project, 2005).

Tangga energi
Energi merupakan prioritas dalam daftar belanja kaum miskin. Dari sini mudah dipahami kenapa mereka rela antre berjam-jam untuk sekadar mendapatkan beberapa liter minyak tanah. Minyak tanah diperebutkan demi kebutuhan subsisten agar dapur tetap “ngebul” dan aktivitas sosial-ekonomi terus bergerak.

Tak banyak pilihan untuk mendorong publik menuju penggunaan energi yang lebih bersih dan efisien. Dalam model “energy ladder”, transisi energi akan berlangsung dari tahap tradisional (kayu bakar, sisa panen) menuju intermediate (minyak tanah, briket), lalu modern (elpiji, biobahan bakar). Menurut model ini, rumah tangga akan beralih menggunakan energi lebih modern sejalan dengan meningkatnya pendapatan.

Meski elpiji disosialisasikan lebih efisien, banyak warga tetap enggan menggunakan kompor gas, salah satunya karena khawatir penghasilannya tak selalu cukup untuk membeli isi ulang elpiji. Kendala likuiditas (liquidity constraint) ini terbukti, seperti dilaporkan media, sebagian keluarga justru lebih memilih menjual tabung dan kompor gas yang dibagikan pemerintah untuk menutupi kebutuhan hidup.

Perspektif lebih baru menyatakan rumah tangga mengonsumsi energi dalam bentuk portofolio. Berbagai studi di sejumlah negara menunjukkan, adopsi terhadap energi yang lebih modern ternyata berujung pada pemakaian sumber energi ganda oleh masyarakat (Barnes dan Qian, 1992). Dengan kata lain, konsumsi rumah tangga berada di semua titik pada “tangga energi”. Misalnya, energi untuk memasak dikombinasikan antara kompor gas dan minyak sekaligus. Dengan fenomena ini, promosi energi yang dipandang lebih baik dan hemat tak akan banyak menuai manfaat.

Transisi energi, di pihak lain belakangan banyak dilihat dengan pendekatan “household model”. Pendekatan ini melihat pilihan rumah tangga amat kompleks seperti dipengaruhi faktor anggaran, waktu, ketersediaan sumber, dan atribut dari energi itu sendiri. Tiap energi merupakan komoditas yang memiliki atribut dan kegunaan ganda.

Implikasi
Pengalaman sejumlah negara memastikan transisi energi memerlukan durasi waktu cukup panjang dan desain kebijakan yang komprehensif. Program konversi di beberapa negara, seperti India, memberikan pilihan bagi warga miskin antara beralih ke kompor minyak atau gas. Alasannya, meski elpiji lebih efisien, jelas minyak tanah merupakan sumber energi yang lebih sehat dan ramah lingkungan ketimbang penggunaan energi tradisional.

Kini strategi penyediaan energi bagi kaum miskin diletakkan sebagai penyangga pokok bagi tercapainya tujuan pembangunan milenium (MDGs). Tiap tahun diperkirakan 1,3 juta orang meninggal akibat polusi dalam ruangan yang disebabkan penggunaan bahan bakar tradisional (World Energy Outlook 2006), sementara di Indonesia 74 persen penduduk masih memakai bahan bakar tradisional untuk keperluan memasak (IEA 2002).

Bagi kaum papa, sulit memahami konversi ke elpiji dalam logika penghematan. Bagi mereka, minyak tanah yang bisa diecer hingga setengah liter terasa lebih hemat karena tak menyita pengeluaran. Implikasi dari model “tangga energi” mengisyaratkan, tanpa pengurangan kemiskinan, transisi energi akan terkendala. Karena itu, ia mensyaratkan suksesnya pengurangan kemiskinan, jangkauan kredit mikro lebih luas, dan akses pendidikan yang merata. Tanpa kebijakan simultan semacam ini orang miskin tak akan mampu menjangkau energi modern.

Alhasil, orang miskin tetap berhak mendapatkan subsidi atau jaring pengaman sosial. Pembagian kompor dan tabung gas gratis amat menolong pada tahap awal transisi energi. Namun, itu tidak menjamin warga miskin akan naik ke “tangga energi” yang lebih sehat dan efisien secara permanen.
ZAINAL ALIMUSLIM HIDAYAT Peneliti di Indonesia Muda Institute

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: