Tahun 2007, Kompor Minyak Tanah Akan Ditarik

Selasa, 09 Mei 2006

kompas-cetak
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/09/ekonomi/2642534.htm

jakarta, kompas – Pemerintah berencana menarik kompor minyak tanah untuk digantikan dengan kompor elpiji mulai tahun depan. Tujuannya, mempercepat proses konversi minyak tanah ke gas elpiji.

Demikian dikatakan Direktur Bahan Bakar Minyak Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas Adi Subagyo di Jakarta, Senin (8/5).

Menurut dia, penarikan kompor minyak tanah secara bertahap dilakukan agar masyarakat secara perlahan beralih keelpiji. “Bukan ditukar tambah, tetapi kalau diperlukan mungkin kompor elpiji nanti dijual lebih murah,” kata Adi Subagyo.

Pemerintah sedang mengkaji upaya pengalihan minyak tanah ke gas elpiji untuk menekan subsidi BBM tersebut. Dengan kuota 10 juta kiloliter dan harga eceran tertinggi minyak tanah Rp 2.250 per liter, sedangkan harga nonsubsidi Rp 5.660 per liter, subsidi minyak tanah tahun ini diperkirakan mencapai Rp 25 triliun.

Sesuai dengan road map, harga keekonomian BBM, minyak tanah, ditargetkan sudah bebas subsidi pada tahun 2008. Elpiji dipandang sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah yang lebih murah karena dari segi panas yang dihasilkan lebih tinggi daripada minyak tanah. “Kalau dibandingkan, satu kilogram gas elpiji setara dengan 3-4 liter minyak tanah,” kata Adi Subagyo.

Berdasarkan data Pertamina, konsumsi elpiji mencapai 1,08 juta per tahun, dengan harga jual Rp 4.250 per kilogram.

Pemerintah, lanjut Adi, sudah memperhitungkan kelemahan kemasan gas elpiji dalam tabung isi 12,5 kilogram yang terlalu mahal untuk masyarakat golongan menengah bawah. Oleh karena itu, elpiji juga akan dijual dalam tabung kecil isi 3-4 kilogram agar lebih murah.

Empat daerah
Direktur Pemasaran Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Erie Soedarmo mengatakan, ada empat daerah yang menjadi target awal konversi minyak tanah ke gas elpiji, yaitu Batam, DKI Jakarta, Denpasar, dan Makassar.

“Tentunya target konversi adalah masyarakat yang sudah siap melakukan dengan uang sendiri, seperti untuk membeli kompor dan tabung gas. Misalnya, masyarakat yang punya usaha warung. Itu memang ada di beberapa wilayah, seperti di Pulau Batam yang cukup besar pemakaiannya,” kata Erie.

Selain golongan masyarakat tak mampu yang memakai minyak tanah untuk keperluan memasak, harus diperhatikan pula golongan masyarakat yang menggunakan minyak tanah untuk keperluan penerangan.
Selain memperhitungkan target konsumen, dalam rencana konversi elpiji tersebut, pemerintah harus memperhitungkan fasilitas stasiun pengisi gas elpiji.

Menurut Erie, ada beberapa alternatif subsidi elpiji yang bisa dilakukan. Pertama, menggunakan sistem lelang kepada badan usaha yang berminat ikut mendistribusikan gas elpiji.

“Badan usaha yang menang lelang mempunyai kewajiban menyetorkan elpiji dengan volume tertentu, untuk wilayah yang telah ditentukan, sesuai dengan harga komitmen yang ditetapkan,” ujar Erie.
Kedua, pemerintah menetapkan harga beli dari badan usaha dan harga jual ke masyarakat. Harga beli itu merupakan harga keekonomian elpiji.

“Misalnya, harga beli elpiji impor 430 dollar AS per ton atau sekitar Rp 4.837,5 per kilogram, harga itulah sebagai harga keekonomian elpiji. Artinya, semua badan usaha yang ingin mengklaim subsidi itu hanya diterima pemerintah kalau menjual elpiji dengan harga tersebut. Lalu, pemerintah menetapkan harga jual ke masyarakat. Katakanlah harga jualnya Rp 3.000 per kilogram. Berarti subsidinya selisihnya, sekitar Rp 1.800 per kilogram,” ujar Erie. (DOT)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: