Pro Kontra Minimarket

Pikiran Pembaca Kedaulatan Rakyat
02/02/2009 08:31:03

logo_br_kr

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=190310&actmenu=39

AKHIR-AKHIR ini muncul pendapat pro-kontra atas kehadiran sebuah pusat belanja modern di suatu kabupaten atau kota kecil.
Diawali dengan satu kebijakan salah satu pemerintah daerah yang tidak memberikan izin kepada pusat belanja modern yang disebut dengan supermarket, dengan pertimbangan akan mematikan pasar tradisional.

Disusul dengan keluhan para pedagang retail dari suatu kota di luar DIY yang menyatakan kehadiran sebuah minimarket (apakah yang dimaksud supermarket?) di kotanya akan mematikan pedagang-pedagang retail (berita KR, 27/1/2009).
Ada pula pendapat bahwa dengan membatasi kehadiran sebuah supermarket merupakan salah satu bentuk pembelaan terhadap wong cilik. Pada kesempatan ini, penulis mencoba menelaah satu per satu atas wacana tersebut.

  1. Harga barang-barang pada sebuah supermarket memang sangat bersaing, karena supermarket mengambil barang-barang dari distributor sehingga harga pokok penjualan menjadi sangat bersaing. Keberadaan supermarket yang berdekatan dengan pasar tradisional akan menyedot pembeli, karena di samping harga amat bersaing (minimal sama dengan pasar tradisional), tetapi suasana dan tempat belanja sangat nyaman. Hal ini bisa diatasi dengan membatasi jarak antara supermarket dengan pasar tradisional (misal minimal berjarak 500 meter), di samping itu juga pembenahan total atas wujud pasar tradisional.
  2. Tingkat kehidupan rakyat Indonesia terdiri atas berbagai lapisan, pada saat kita membuat pernyataan ingin menolong wong cilik, dalam kaitannya dengan membatasi gerak supermarket (minimarket?) siapakah yang akan ‘merasa ditolong’? Apakah para pedagang kecil (yang kebanyakan memang wong cilik) atau masyarakat ekonomi lemah yang jumlahnya jauh lebih besar dari pedagang kecil? Dengan kehadiran supermarket (minimarket?) justru masyarakat lapisan bawahlah yang merasa mendapatkan harga-harga yang lebih murah (‘=tertolong’) di samping juga akan membuka peluang kerja baru.
  3. Namun demikian penulis sependapat bahwa kehadiran pusat belanja modern ini perlu diatur kehadirannya, antara lain:
  • – Yang berbentuk supermarket/hypermarket hanya boleh beroperasi di suatu daerah tertentu.
  • Yang berbentuk minimarket kesempatan diberikan kepada bukan pemodal kuat yang telah membuka cabang di berbagai kota.
  • Jumlahnya dibatasi, misal jarak terdekat antar-minimarket 500 meter.
  • Minimarket harus menyediakan ruangan, misal 10% dari luas toko untuk memfasilitasi produk-produk setempat antara lain kue-kue, kerajinan tangan dan lain-lain yang dititipkan secara konsinyasi.

Demikian wacana dari penulis, semoga mendapat tanggapan dari pihak-pihak berwenang atau yang memahami tentang regulasi pasar mini modern. q- s (239-2009)

Widhi Kurniawan SH, Yogyakarta.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: