Minyak Tanah Timbulkan Polemik; Warga Masih Pikir-pikir untuk Menggunakan Gas

Rabu, 22 Agustus 2007

kompas-cetak28

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/22/jogja/1041391.htm

YOGYAKARTA, KOMPAS – Pemerintah Kota Yogyakarta khawatir, rencana pemerintah pusat untuk mengonversi bahan bakar minyak tanah menjadi gas elpiji akan menimbulkan polemik di masyarakat. Di sisi lain, belum diperoleh kepastian kapan konversi tersebut akan dilaksanakan di Kota Yogyakarta.

Menurut Kepala Seksi Pengawasan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Yogyakarta Imam Nurwahid, polemik berpotensi terjadi karena warga umumnya menilai penggunaan gas elpiji tidak semudah minyak tanah. Gas tidak bisa dibeli eceran dan warga harus berinvestasi ulang untuk membeli tabung serta kompor khusus.

“Artinya, warga harus mengeluarkan uang lagi. Hal itu dirasa cukup berat, apalagi saat ini harga-harga kebutuhan pokok juga tengah melambung,” tutur Imam, Selasa (21/8).

Mengenai keuntungan penggunaan bahan bakar gas yang dinilai jauh lebih irit, Imam berpendapat hal tersebut amat relatif. Irit atau tidaknya konsumsi bahan bakar, amat tergantung dari cara penggunaannya. Ia hanya setuju bahwa bahan bakar gas lebih bersih dan lebih cepat memberi panas daripada minyak tanah.

Rencana konversi minyak tanah menjadi gas di Kota Yogyakarta sebenarnya sudah muncul sejak awal tahun ini. Namun, hingga kini pihak Pemerintah Kota Yogyakarta belum mendapat pemberitahuan dari Pemerintah Provinsi DIY mengenai realisasi dari rencana itu.

“Kota Yogyakarta sendiri sudah siap dengan tiga wilayah kecamatan sebagai lokasi pelaksanaan percontohan konversi, yakni di Gondokusuman, Gedongtengen, dan Jetis. Tinggal menunggu instruksi lebih lanjut saja,” kata Imam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DIY tahun 2005, dari total 149.184 rumah tangga (RT) di Kota Yogyakarta, sekitar 85.488 masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak. Sedangkan yang menggunakan gas baru berjumlah 31.960 RT, atau sekitar 21,4 persen saja.

Kebiasaan
Siti Fatimah, warga Desa Kopeng, Kecamatan Cangkringan, menuturkan hingga saat ini warga di desanya terbiasa menggunakan minyak tanah dan kayu bakar ketika memasak. “Ada sekitar 10 warga yang sudah memiliki kompor gas, hadiah ketika membeli sepeda motor secara kredit, tetapi mereka lebih memilih memakai kayu bakar karena lebih hemat,” ujar Siti.

Sementara Siti Kanah, warga Desa Pakem, Kecamatan Pakem, Sleman, mengatakan rasa nasi atau air yang dimasak dengan kayu bakar atau minyak tanah lebih enak dibanding kalau dimasak dengan kompor gas. Ibu Sunardi (40), pemilik usaha katering “Agita”, di Kelurahan Sindoadi, Kecamatan Melati, Kabupaten Sleman, menyatakan pihaknya sampai saat ini belum mengetahui bagaimana sesungguhnya keinginan pemerintah menggantikan minyak tanah dengan gas elpiji tersebut.

“Selama ini kami hanya tahu keinginan itu secara selintas dari televisi,” ucapnya.

Bagi para pedagang kecil, lanjutnya, pemerintah seharusnya tetap menyediakan minyak tanah. Perhitungannya, bahan bakar minyak (BBM) ini dalam pemakaiannya bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada. Harga minyak tanah di Sleman, misalnya, Rp 2.500 per liter. “Kalau mau beli setengah liter juga bisa. Artinya, baik pedagang maupun ibu rumah tangga tidak banyak terbebani,” tuturnya.

Sementara, kalau untuk pemakaian gas elpiji, jelasnya, terpaksa harus menyediakan uang cukup besar. Untuk tabung elpiji dengan ukuran tiga kilogram, misalnya, itu bisa membeli dengan harga sekitar Rp 15.000. Selama ini tabung yang tersedia justru berisi 13 kilogram, dengan harga Rp 57.000. (YOP/CAS/FUL)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: