Lingkungan; Limbah Tahu untuk Bahan Kompor Gas

Defri Werdiono
Selasa, 10 Juli 2007

kompas-cetak25

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/10/jogja/1039590.htm

Muhadi Prayitno (54) menyalakan kompor miliknya yang menghitam oleh jelaga. Bau tidak sedap yang sempat menusuk hidung akibat dibukanya keran pipa saluran gas perlahan menghilang, berganti nyala api berwarna kebiruan.

Dua puluh menit berlalu, sepanci air mentah yang sebelumnya ia letakkan di atas kompor pun mendidih. Seusai menuangkan air panas ke dalam dua gelas kopi, Muhadi kembali memutar keran tanda menutup aliran gas.
Demikianlah, begitu mudahnya warga Dusun Gunungsaren Kidul, Trimurti, Srandakan, Bantul, itu memasak. Sekitar dua tahun terakhir keluarga Muhadi menggunakan bahan bakar biogas, menggantikan bahan bakar konvensional minyak tanah yang telah dipakainya sejak puluhan tahun.

Selain memasak, perangkat biogas bantuan Dewats Indonesia Project, sebuah LSM yang bergerak di bidang pengolahan limbah, itu juga dimanfaatkan untuk lampu penerangan (semacam petromaks). Sayang, lampu itu saat ini rusak dan belum sempat diperbaiki.

“Bahan bakar ini cukup hemat. Kami tidak perlu lagi mengeluarkan uang. Dulu kami selalu membeli minyak tanah dengan harga rata-rata Rp 1.500 per hari untuk memasak. Kalau ditotal, sebulan bisa habis Rp 45.000 hanya untuk minyak, belum biaya yang lain,” ujar Muhadi, pekan lalu.

Muhadi bukan satu-satunya perajin tahu yang bisa merasakan enaknya bahan bakar tersebut. Menurutnya, ada beberapa tetangga yang juga ikut memanfaatkan fasilitas ini.

“Untuk sementara pemanfaatannya belum bisa maksimal. Warga yang memanfaatkan masih terbatas karena gas yang keluar sangat bergantung dengan banyaknya limbah tahu yang masuk ke bak penampungan,” kata Muhadi.

Berdasar penghitungan satu unit bak pengolahan rata-rata mampu menampung limbah yang dihasilkan dari 400 kilogram kedelai per hari. Sementara itu, seorang perajin tahu rata-rata hanya menghabiskan 50- 100 kg kedelai. Artinya, limbah yang masuk dalam sehari hanya 12-25 persen dari daya tampung keseluruhan.

Namun, tidak selamanya jumlah biogas yang dihasilkan rendah. Pada waktu-waktu tertentu, ketika produksi tahu mengalami peningkatan, gas yang keluar juga semakin besar. “Pada saat Lebaran, misalnya, produksi tahu pasti naik akibat melonjaknya permintaan tahu oleh masyarakat. Untuk mengatasi meluapnya gas, biasanya kompor akan sering kita nyalakan,” tutur Muhadi.

Menurutnya, perasaan gembira tengah menyelimuti sebagian perajin tahu yang lain. Mereka berharap dua unit bak pengolahan limbah yang baru dibangun sudah bisa digunakan akhir Juli. Secara keseluruhan ada empat unit bak pengolahan di Gunungsaren Kidul yang tersebar di RT 71, 72, dan 73.

Wardayadi (35), perajin sekaligus pengurus kelompok perajin tahu Ngudi Lestari, mengatakan dua unit bak yang baru dibangun atas biaya Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan swadaya masyarakat. “Sekarang bak itu masih dalam tahap uji coba,” ujarnya.

Menurut Wardayadi, penambahan dua unit bak baru belum bisa memenuhi kebutuhan perajin akan tempat pengolahan limbah.

Perajin di Gunungsaren Kidul yang mencapai 50 orang memerlukan 8-10 unit bak pengolahan, dengan rincian
masing-masing bak dipakai 4-5 perajin.

“Dengan empat unit bak pengolahan, perajin yang memanfaatkan hanya 20-25 orang, terutama pemilik lahan. Perajin yang lain akan menunggu sampai terbangunnya bak berikutnya,” katanya.

Meski telah memiliki empat unit bak pengolahan, menurut Wardayadi, masih ditemui masalah. Sejauh ini tiap unit bak pengolahan tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh 4-5 orang sekaligus. Yang memanfaatkan biogas hanya 1-2 orang karena belum ada saluran buangan akhir dari bak pengolahan menuju ke Sungai Progo yang berjarak sekitar 1,4 kilometer.

Akibatnya perajin masih membuang sisa limbah ke pekarangan. Meski sudah tidak bau, sisa limbah itu cukup mengganggu.

“Nah, kendalanya adalah membuat saluran limbah yang ke Sungai Progo. Kalau itu bisa dilakukan, jumlah warga yang memanfaatkan biogas juga bisa maksimal,” katanya.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: