Kompor Irit untuk Bujangan, Keluarga Kecil, dan Pedagang

Prof Dr Ir Djoko Sungkono MEng Sc
Minggu, 14 Januari 2007

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=278814&kat_id=405

Delapan jam Dr Ir Djoko Sungkono MEng Sc menghabiskan waktunya di laboratorium. Kurun 2001-2006, sebanyak 66 eksperimen ia lakukan. Kesenangannya di laboratorium membuahkan kompor minyak sumbu 16, 18, dan 24, dengan desain sarangan sebagai pusat pembakaran. Pada 1984, ia telah mematenkan desain produk kompornya itu.

Kini, dia tetap melanjutkan penelitian untuk pengembangan kompor ciptaannya, meski pemerintah justru mengampanyekan penggunaan elpiji. “Yang sudah dilempar ke pasaran adalah kompor generasi kedua. Sampai saat ini, saya sudah menciptakan kompor sejenis sampai generasi keenam,” kata dosen Teknik Mesin Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) itu, yang dikukuhkan sebagai guru besar pada 10 januari 2007 lalu. Ia adalah guru besar ketiga ITS di bidang konversi energi atau perpindahan panas.

Kini, ia telah mengembangkan reflektor panas bersirip, kompor minyak bersumbu logam, dan kuningan sebagai penyerap katalisator racun gas buang kendaraan. Ketiganya kini dalam proses pematenan. Laboratorium, bagi Djoko adalah tempat bereksperimen, mempraktikkan ilmu, mempraktikkan nilai-nilai akademik, dan mempraktikkan nilai-nilai moral.

Melakukan penelitian untuk kepentingan rakyat kecil, menurut dia adalah bagian dari mempraktikkan nilai-nilai moral. Maka, ia tak malu mengembangkan kompor minyak, yang di pasaran dijual dengan harga Rp 48 ribu untuk kompor sumbu 16, Rp 60 ribu untuk kompor sumbu 18, dan Rp 90 ribu untuk kompor sumbu 24. “Untuk yang sumbu 16 cocok bagi yang masih lajang. Sedang sumbu 18 cocok bagi keluarga kecil dengan dua anak, dan terakhir cocok untuk berjualan,” ujar Djoko yang suka melemparkan humor-humor lucu itu.

Kompor ciptaan Djoko tersebut intinya adalah pengapian maksimal, namun lebih irit dalam pemakaian bahan bakar minyak tanahnya. Djoko mengklaim kompornya lebih hemat dari kompor elpiji yang sekarang dikampanyekan pemerintah dan Pertamina. “Elpiji itu kan untuk konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas. Masyarakat kecil jelas tidak mampu membeli elpiji,” ujar pria kelahiran Surabaya, 7 September 1944, itu.

Djoko menjelaskan keistimewaan kompornya yang berbahan baja berketebalan satu milimeter itu adalah lubang pemasukan udara di ruang bakar dibuat menjadi turbulans. Dengan demikian, campuran antara uap minyak tanah dengan udara jadi lebih homogen. Campuran ini mengakibatkan pembakaran jadi lebih sempurna. Ketika terjadi pembakaran sempurna, bahan bakar uap menyusut dan dicampur dengan cara yang sama. Akibatnya, temperatur api menjadi optimal, bisa mencapai 700 derajat Celsius. Kemampuan panas elpiji mencapai 780 derajat Celcius. “Dengan demikian, kebutuhan minyak tanah lebih sedikit,” ujar Djoko.

Asyik berada di laboratorium, membuat Djoko tak jarang baru pulang dini hari. Apa yang didapatkan? “Banyak memang orang bertanya seperti itu, tapi saya selalu menjawab itu dilakukan bukan lantaran saya seorang yang gila kerja, tapi karena saya mendapatkan kesenangan saat berada di laboratorium,” kata Kepala Laboratorium Bahan Bakar dan Motor Pembakaran Dalam ITS ini.

Di laboratorium, ia banyak meneliti meneliti bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil. “Jauh sebelum orang ramai membicarakan biodiesel atau biopetrol seperti sekarang, kami di laboratorium sudah menelitinya, sehingga sampai pada kesimpulan, untuk saat ini pengembangan biodiesel yang paling mungkin adalah pemanfaatan crude palm oil, virgin coconut oil, dan nipah,” tutur Djoko.

Ia juga bereksperimen dengan kacang-kacangan dan umbi-umbian Bagaimana dengan bahan lainnya? “Hampir semua jenis kacang-kacangan dan umbi-umbian bisa dijadikan bahan alternatif untuk biodiesel,” ujar Djoko.
Saat ini Djoko sedang meneliti kemungkinan penggunaan kacang tanah untuk biodiesel. “Semuanya, kami telah lakukan, karena kami tertantang untuk mencari berbagai alternatif. Tentang dimanfaatkan atau tidak, itu urusan nanti, tapi kami hanya ingin menyampaikan kepada masyarakat ada banyak alternatif bahan yang bisa dijadikan sebagai bahan pengganti bahan bakar fosil,” kata Djoko.

Djoko menyarankan pengembangan biodiesel sebaiknya tidak semata terpaku pada satu jenis bahan baku. Tapi, dikembangkan berbagai jenis bahan baku lain, yang bisa diterapkan dan disesuaikan dengan daerah-daerah yang berlimpah bahan bakunya. “Dengan desain pabrikasi bergerak, kita bisa menempatkan peralatan untuk menghasilkan biodiesel dengan bahan baku dari buah kelapa, misalnya di daerah Sulawesi, saat di daerah itu panen,” kata ayah dua anak yang semasa mahasiswa dijuluki James Bond itu.

Lulus kuliah, ia langsung bergabung menjadi dosen di ITS dengan cita-cita meraih pangkat tertinggi, IVE. Dengan gelar profesor, kini ia telah meraih cita-cita akademiknya. “Alhamdulillah, SK saya tentang guru besar sekaligus juga mendapatkan pangkat IVE,” katanya.

Apa yang disampaikan dalam orasi ilmiah pengukuhannya? “Sebagai orang yang dibesarkan dan meraih gelar guru besar dari laboratorium, saya menyampaikan pidato pengukuhan tentang ‘Peran Laboratorium Keahlian dalam Menunjang Keilmuan’,” ungkapnya.

Pada pidatonya, ia menyinggung bagaimana sebuah laboratorium juga bisa mengantarkan seseorang meraih gelar akademik tertinggi. “Jadi tidak perlu masuk laboratorium setelah menjadi profesor, tapi masuklah ke laboratorium untuk memperoleh gelar guru besar,” katanya sambil tertawa. edo

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: