PERSAINGAN Ritel: Tradisional Vs Ritel Modern

timbangan2

Rhenald Kasali
Jumat, 23 Maret 2007

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/23/ekonomi/3400323.htm

Pertarungan antara pasar tradisional dan pasar modern selalu menarik perhatian pembuat kebijakan. Seperti dua orang yang bertengkar, kita pun ingin memisahkannya. Kita pikir, kalau masing-masing berada dalam zonanya, itu akan lebih sehat.

Namun, kadang kita melupakan esensi dari kehidupan itu sendiri, bahwa perbedaan dapat saling melengkapi; bahwa konsumen kita berevolusi, dan rakyat yang menjadi obyek kebijakan bukan cuma pedagang, tetapi juga konsumen.
Konsumen Indonesia adalah pembelanja multimode yang hari ini belanja di warung, besok di minimarket, dan akhir bulan ke hipermarket. Kondisi itu membuat kebijakan persaingan yang salah justru dapat mematikan persaingan itu sendiri.

Drama persaingan peritel tradisional melawan peritel modern dapat dilihat pada angka-angka berikut ini. Menurut Asosiasi Pengelola Pasar Tradisional, dewasa ini terdapat 13.400 pasar tradisional di seluruh Indonesia dengan 12,6 juta pedagang kecil. Di sisi lain, walaupun jumlahnya kecil, ritel modern telah meningkat pesat, dari 4.977 (2003) menjadi 7.689 (2005).

Dari jumlah itu, pelaku terbesar bukanlah hipermarket, melainkan supermarket, sebanyak 1.141 unit. Sedangkan jumlah outlet hipermarket baru mencapai 83 buah. Namun, karena pengunjungnya padat dan letaknya strategis, hipermarket selalu menjadi sasaran pembatasan. Padahal, keramaian berbelanja di hipermarket bukan hanya mematikan usaha tradisional, tetapi juga mematikan supermarket.

Sementara itu, tekanan persaingan terbesar peritel tradisional adalah minimarket (convenience store) yang pada tahun 2003 jumlahnya baru 4.038 unit, tetapi pada tahun 2005 telah menjadi 6.465 unit.

Hubungan di antara kedua pelaku usaha yang berbeda DNA-nya ini sebenarnya tidak bersifat dikotomi. Sudah sejak lama para pengembang gedung-gedung pertokoan memanfaatkan kehadiran ritel modern untuk memajukan ritel-ritel tradisional.

PD Pasar Jaya, misalnya, pernah sengaja menempatkan Matahari Department Store di lantai atas untuk menarik lalu lintas pembeli. Lalu lintas itu menguntungkan pedagang tradisional yang menempati tiga lantai di bawahnya.

Namun, waktu berlalu, segala sesuatu berubah. Struktur penghasilan berubah, jumlah wanita yang memasuki dunia kerja terus meningkat, waktu yang dimiliki konsumen semakin terbatas, teknologi konsumen (transportasi, alat pembayaran, kemasan, dan alat-alat pendingin), dan sebagainya. Dengan demikian, tuntutan dan pola belanjanya berubah.

Sampailah drama itu memisahkan keduanya. Yang satu melaju cepat, yang satu lagi terbelenggu. Supermarket berevolusi menjadi hipermarket, minimarket (lebih dekat pemukiman) dan specialty store. Sementara itu, pasar tradisional semakin terpuruk. Bangunannya tidak diperbarui, teknologi tidak diperkenalkan, premannya semakin banyak, sanitasinya buruk, lorong-lorongnya gelap dan becek. Yang lebih menarik lagi, ternyata pengelolanya bukan orang-orang bisnis.

Perannya memudar
Akhirnya pasar tradisional mulai ditinggalkan para pedagangnya. Ketika ini terjadi, dengan cepat kita mengeluh: Kita ini bukannya tidak bisa hidup, tetapi dimatikan.

Oleh siapa? Yang jelas oleh pelaku-pelaku usaha besar? Benarkah demikian?

Mari kita lihat fakta-faktanya. Di Jakarta, menurut PD Pasar Jaya, dari 151 pasar yang dikelola, ada lima pasar yang hampir mati, yaitu Pasar Jalan Blora (Menteng), Cilincing, Karet Pedurenan, Cipinang Besar, dan Muncang.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, memudarnya pasar-pasar itu disebabkan oleh banyak hal, terutama lokasi yang sudah tidak memadai lagi dan bangunan yang sudah tidak nyaman.

Selain itu, menurut hasil survei AC Nielsen (2006), masalah mendasar yang dikeluhkan konsumen adalah tempat sampah (63 persen), kotor (60 persen), bau (47 persen), panas (29 persen), tidak aman (14 persen), dan produk kurang higienis (6 persen).

Kita juga menyaksikan pemerintah daerah membiarkan para pemodal membangun ruko-ruko di luar area pasar yang lebih strategis. Akibatnya, konsumen memilih berbelanja di luar pasar yang lebih terang dan lebih bersih. Pedagang pun lebih memilih area kaki lima di luar daripada berjejalan di dalam kios-kios.

Fakta-fakta di atas menunjukkan, sudah saatnya pemerintah melakukan revitalisasi pasar tradisional. Menteri Perdagangan hendaknya jangan hanya mengurus Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) saja atau sekadar mengecek harga, tetapi perbaikilah. Demikian juga dengan para gubernur dan anggota DPRD.

Saya pernah bertanya kepada para pengelola perusahaan daerah, apakah tidak terpikir memperbaiki pasar-pasar tradisional? Mereka menjawab bahwa programnya sudah ada, demikian juga maket bangunannya. Namun, mereka kesulitan menghadapi pemerintah daerah dan DPRD, terutama dalam hal anggaran dan pengalihan aset. Selain terbelenggu oleh birokrasi dan cara berpikir aparat (dan parlemen), mereka juga terbelenggu oleh cara kerja lama. Sebagian besar karyawan mereka hanya tamat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Pengembang yang pernah bekerja sama meremajakan pasar banyak mengeluh, betapa rendahnya kemampuan dan kesadaran para petugas dalam merawat fasilitas-fasilitas baru.

Jadi, masalahnya ada di mana? Di luar sana atau di dalam diri kita sendiri? Mungkinkah kita mengatur persaingan tanpa dasar pengetahuan bisnis dan manajemen, khususnya proses evolusi yang memadai?
Seperti kata Charles Darwin, “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespons perubahan.”

Rhenald Kasali, Pengajar Manajemen Perubahan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: