Perdagangan Bebas Tidak Selalu Menguntungkan

Senin, 4 November 2002

kompas-cetak5
http://www.kompas.com/

PERDAGANGAN bebas berangkat dari keinginan untuk menghilangkan kemiskinan dengan cara membuat negara-negara bisa mendapatkan produk yang lebih murah, sementara pada saat bersamaan, negara-negara miskin bisa meningkatkan pendapatan orang-orang miskinnya, terutama petani, peternak, nelayan, dan petambak kecil, dengan cara melakukan ekspor ke negara-negara maju.


Cita-cita yang ideal itu, saat ini, ternyata tidak menguntungkan negara-negara miskin. Terjadi ketidakpuasan di mana-mana. Demonstrasi besar di Seattle, Amerika Serikat (AS), beberapa tahun lalu terhadap negara-negara kaya, adalah salah satu bukti ketidakadilan itu.

Terakhir adalah buku tulisan Joseph Stiglitz, pemenang hadiah Nobel tahun 2001 untuk ekonomi, berjudul Globalisation and Its Discontent, memaparkan dengan gamblang bagaimana dominasi negara kaya-terutama AS- dalam lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia, merugikan negara-negara berkembang.

Subsidi terhadap petani di negara-negara kaya menyebabkan hasil pertanian di negara-negara berkembang tampak seperti seolah-olah dihasilkan dengan cara tidak efisien. Hambatan impor produk pertanian primer oleh negara kaya atas produk pertanian negara berkembang dalam bentuk nontarif, misalnya melalui standar kesehatan, menyebabkan petani negara miskin tidak bisa menjual produknya.

Dalam kenyataan, ketidakseimbangan itu benar-benar seperti semut melawan gajah. Negara-negara kaya memiliki banyak sumber daya, riset, data, dan mampu membayar staf yang terus-menerus mengikuti perkembangan perundingan, sementara negara berkembang seringkali tidak mampu menyediakan hal itu. Akibatnya, dalam perundingan, negara berkembang sering dibuat tak berkutik. Dan, bila hasilnya adalah keuntungan untuk negara kaya dan kerugian untuk negara miskin, itu disebut sebagai sebuah perundingan yang adil.

SELAIN ketidakadilan yang sangat nyata di dalam liberalisasi perdagangan tersebut, ada hal lain yang sebenarnya jauh lebih merugikan negara-negara miskin.

Ekofeminis Vandana Shiva dalam menanggapi laporan Oxfam International tentang perdagangan bebas mengungkapkan bagaimana perdagangan bebas itu tidak lain adalah bentuk kolonialisme baru.

Seolah-olah akses pasar yang lebih besar untuk negara-negara berkembang akan menguntungkan negara-negara ini, tetapi pada kenyataannya justru mereka lebih banyak mengalami kerugian. Akses pasar, demikian Shiva, sama artinya dengan meningkatkan ekspor. Apa artinya meningkatkan ekspor ke negara-negara kaya? Artinya, komoditas yang diusahakan adalah yang dibeli konsumen di negara-negara kaya dan itu, menurut Shiva, adalah daging, tanaman hias/bunga potong, dan udang.

Dampak lebih jauh dari pilihan komoditas tersebut adalah beralihnya petani ke produksi komoditas ekspor tersebut dan meninggalkan tanaman pangan yang sebenarnya penting untuk ketahanan pangan lokal.

Dengan mengutip penelitian Utsa Patnaik, ekonom India terkemuka, Shiva menunjukkan bahwa di bawah kolonialisme Inggris, produksi pangan per kapita orang India turun dari 200 kg/ha pada tahun 1918 menjadi hanya 150 kg pada tahun 1947. Sementara pada periode yang sama, ekspor komoditas nonbiji-bijian naik 10 kali lebih cepat dibandingkan biji-bijian yang merupakan sumber pangan. Di Jawa, di bawah pemerintahan kolonial Belanda, ekspor komoditas perkebunan naik 600 persen, sementara konsumi beras turun dari 199 kg/kapita pada tahun 1885 menjadi 162 kg pada tahun 1940.

Kerugian lain adalah kerusakan lingkungan, seperti yang terjadi pada pengembangan tambak yang intensif. Di Jawa, pengembangan tambak udang di pantai utara Jawa telah mengorbankan hutan bakau yang ditebang untuk pembuatan lahan tambak.

Untuk perempuan, dampak dari globalisasi yang mendorong terjadinya ekspor ini juga tidak sedikit. Yang paling sering menjadi bahan kajian adalah sektor manufaktur yang berorientasi ekspor seperti alas kaki dan tekstil.
Bukan hal baru bahwa terjadi feminisasi tenaga kerja di sini karena perempuan dianggap lebih teliti, lebih sabar, bersedia bekerja dengan jam kerja lebih panjang, tetapi dengan tuntutan upah dan fasilitas lain tidak setinggi buruh laki-laki. Buruh perempuan juga lebih tidak terorganisir sehingga kurang mampu berunding dengan manajemen.
Karena berorientasi ekspor artinya bersaing dalam kualitas dan harga, maka upah buruh menjadi faktor biaya yang sering ditekan. Demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan upah selalu dipandang sebagai hal yang menyebabkan larinya investor, tetapi perginya investor asing sebenarnya juga disebabkan oleh masalah di perusahaan induk di negara asalnya seperti yang terjadi pada perusahaan elektronik Aiwa.

Jadi, persoalan globalisasi sebenarnya adalah persoalan semua anggota masyarakat, laki-laki dan perempuan. Tetapi, perempuan bisa menjadi pihak yang lebih merugi karena kerusakan lingkungan akan membuat perempuan harus bekerja lebih keras mencari air bersih, misalnya. Perubahan komoditas tanaman dari tanaman pangan ke tanaman ekspor juga akan lebih menguntungkan laki-laki karena penyuluhan akan diberikan lebih kepada laki-laki sebab perempuan harus mengurus rumah dulu sebelum bisa keluar rumah. (NMP)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: