Menggugat Ekonomi Pasar Bebas

David C. Korten, When Corporation Rule The World, 1996.
Ir. Agus Maulana MSM (1997), Professional Books, 512 Halaman, Soft Cover warna dasar hitam

http://www.indeso.org/resensi/0001.html

Jauh di luar dugaan banyak orang bahwa globalisasi ekonomi (pasar bebas) merupakan kekuatan sejarah (atau takdir sejarah) yang mesti diterima apa adanya. David C.Korten mengungkapkan bagaimana sepak terjang para pemimpin perusahaan besar internasional (multinational corporation), pemimpin IMF, World Bank, WTO, politisi negara-negara maju dan para praktisi dan pakar bisnis seperti Kenichi Ohmae (penulis buku The Borderless World) telah memanipulasi pasar dan mengeksploitasi sumberdaya alam, tenaga buruh kaum miskin, dan hasrat konsumsi produk-produk mewah untuk sekelompok elit manusia. Korten menunjukkan bagaimana konvergensi kekuatan-kekuatan ideologi, politik, dan teknologi menghasilkan konsentrasi kekuatan ekonomi dan politik yang semakin besar pada segelintir korporasi dan lembaga keuangan, mengasingkan kepentingan mereka dari kepentingan umat manusia, dan menyebabkan sistem pasar buta terhadap segala hal selain kepentingan keuangan jangka pendek mereka sendiri.


Korten mengawali Bila Korporasi Menguasai Dunia dengan menyodorkan kenyataan-kenyataan krisis manusia di tengah-tengah hiruk-pikuk mitos pasar bebas (globalisasi ekonomi), kemajuan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi dan kemajuan teknologi informasi yang menghilangkan batas-batas komunikasi. Krisis tersebut adalah kemiskinan yang makin parah, disintegrasi sosial, dan perusakan lingkungan. Mengutip Kenneth Boulding, Korten mengungkapkan bahwa krisis ini disebabkan kelakuan manusia yang seperti koboi di daerah perbatasan terbuka tanpa batas padahal sebenarnya kita menempati pesawat ruang angkasa hidup yang memiliki sistem pendukung kehidupan yang seimbang (hal 48).

Di bab dua Korten membahas perjuangan panjang dan terus-menerus memperebutkan kekuasaan (kedaulatan) antara rakyat dan korporasi di Amerika. Pengalaman AS penting karena peran dominan AS dalam mempengaruhi bentuk institusi ekonomi dunia sejak akhir PD I dan PD II sampai akhir abad 20 AS masih tetap merupakan pelaku yang dominan dalam menentukan institusi-institusi international seperti WTO, IMF, Bank Dunia, dan PBB. Jadi, sejarah kekuatan korporat di AS menyangkut lebih dari pada sekedar kepentingan nasional (hal.91).

Di akhir bab ini Korten mengungkapkan distorsi sistem ekonomi yang telah menghasilkan mayoritas penduduk miskin dan minoritas penduduk yang menikmati kekayaan dan jerih payah orang-orang miskin justru dengan cara-cara yang tidak adil. Pada tahun 1992 menurut data UNDP, 20 % dari penduduk dunia yang tinggal di negara-negara kaya menerima 82,7 % dari pendapatan dunia, dan sisanya diperebutkan penduduk di negara-negara miskin (hal.168).
Yang menarik, Korten menulis sepatu Nike di sebuah negara Asean (Indonesia?) sebagai sebuah contoh tentang distorsi sistem ekonomi yang mengalihkan imbalan dari mereka yang menghasilkan nilai riil kepada mereka yang fungsi utamanya adalah menciptakan ilusi pemasaran yang meyakinkan konsumen untuk membeli produk yang sesungguhnya tidak mereka butuhkan dengan harga yang menggila. Nike dijual di AS atau Eropa seharga $73 sampai $135, dibuat dengan biaya sekitar $5,60 oleh gadis-gadis dan perempan muda yang menerima upah sebesar 15 sen sejam. Para pekerja ini ditampung di barak-barak perusahaan, tanpa serikat pekerja, kerja lembur seringkali diwajibkan, dan jika terjadi pemogokan, adakalanya tentara dipanggil untuk mengatasainya. Uang sebesar $20 juta yang diterima bintang bola basket Michael Jordan untuk promosi sepatu Nike melebihi gaji tahunan seluruh pekerja Nike tersebut (hal.174).

Yang paling spektakuler dari buku ini adalah uraian tentang bagaimana pasar bebas atau globalisasi ekonomi telah dirancang dan dikembangkan sebagai suatu agenda politik yang sebagian besar di luar perbincangan terbuka. Tiga organisasi dunia: The Council of Foreign Relation, The Bilderberg, dan The Trilateral Commision merupakan organisasi yang mengumpulkan pimpinan- pimpinan korporasi dan partai politik yang saling bersaing untuk melakukan diskusi pintu tertutup dan proses pembinaan konsensus yang tidak pernah diketahui umum. Meskipun para peserta mungkin percaya bahwa mereka mewakili spektrum pandangan intersektoral dan bahkan internasional yang luas, sebenarnya, ini merupakan proses yang tertutup dan eksklusif yang hanya terbatas di lingkungan para penghuni startos (baca: elit dunia).

The Council for Foreign Relation adalah wadah pertemuan bagi anggota-anggota berpengaruh korporat dan lembaga-lembaga kebijakan luar negeri AS. Pada tahun 1939 the council dan kementerian luar negeri AS menggariskan proyek perencanaan jangka panjang berkaitan dengan masalah-masalah jangka panjang dari perang (PD II) dan rencana-rencana untuk masa damai. Bekerja menurut logika kesiapan AS pasca PD II dalam perekonomian terbuka, rencana ini menekankan pentingnya penciptaan kerangka kerja institusional yang akan menciptakan perekonomian global yang terbuka. Pada 24 Juli 1941 Concil mengajukan memorandum EB 34 kepada presiden AS, menggariskan konsep Grand Area. Grand area adalah kawasan di dunia yang perlu didominasi oleh AS baik secara ekonomi maupun militer untuk memastikan bahan baku bagi industri-industrinya.

Cakupan yang paling disukai akan terdiri dari belahan bumi barat, Inggris, negara persemakmuran, Hindia Belanda (Indonesia), Cina dan Jepang. Memo yang sama menegaskan perlunya pembentukan institusi keuangan dunia untuk menstabilkan mata uang dan memandu program-progaram investasi modal. Rekomendasi ini menghasilkan pembentukan IMF dan IBRD atau Bank Dunia (hal.207).

Bilderberg merupakan kelompok tidak resmi dari sekelompok pemimpin Amerika Utara (AS dan Kanada) dan Eropa yang menyelenggarakan pertemuan-pertemuan bagi kepala negara, politikus, tokoh keuangan, industriawan, intelektual, serikat pekerja, diplomat, dan kalangan pers. Pertemuan-pertemuan Bilderberg memainkan peran sangat penting dalam membentuk Uni Eropa dan menciptakan konsesus di kalangan para pemimpin negara-negara Atlantik.
Pada tahun 1973 Komisi Trilateral (Trilateral Commision) dibentuk dengan kepemimpinan yang meliputi pemimpin empat dari lima korporasi transnasional nonperbankan terbesar di dunia (ITOCHU, Sumitomo, Mitsubishi, dan Mitsui & Co), pejabat puncak lima dari enam bank terbesar dunia (Sumitomo, Fuji, Sakura, Sanwa, dan Mitsubishi Bank), pemimpin media besar dunia (Japan Time, Le Poit, Time Mirror, the Washington Post, CNN, Time Warner).
Kisah globalisasi ekonomi hanyalah sebagian dari kisah dunia yang melahirkan kelas manusia kaya dan manusia miskin. Ada lagi kisah tentang uang, tentang kecenderungan pasar tanpa kekangan yang mengarahkan dirinya menjauh dari produksi kekayaan yang efisien menuju ke ekstasi dan konsentrasi kekayaan (hal.278). Sistem keuangan global telah menjadi pemangsa parasitis yang menggerogoti daging induk semangnya : ekonomi produksi.
Uang merupakan sebagai salah satu temuan manusia yang terpenting, diciptakan sebagai alat tukar universal. Kini, setelah komputer digunakan di mana-mana, langkah selanjutnya relatif jelas : hilangkan semua kertas dan simpan saja angka-angka itu dalam komputer. Meskipun koin dan uang kertas terus beredar, semakin banyak transaksi moneter dunia terjadi dalam bentuk-bentuk transfer elektronik langsung antara-komputer. Uang telah nyaris menjadi benda abstrak. Dan pencetakan uang tidak lagi berkaitan dengan penciptaan nilai (hal 280). Joel Kurtzman, mantan redaktur bisnis New York Times dan sekarang redaktur Harvard Business Review, memperkirakan bahwa untuk setiap $1 yang beredar dalam ekonomi dunia yang produktif, $20 sampai $50 beredar dalam ekonomi yang murni keuangan. Di pasar valuta asing internasional saja, sekitar $800 miliar sampai $1 trilun berpindah tangan setiap hari, jauh melampaui $20 miliar sampai $25 miliar yang dibutuhkan untuk menutup perdagangan bebas barang dan jasa setiap hari (hal.282).

Bagai di film-film Hollywood di mana seorang pencipta robot atau monster yang memiliki ‘otak’ sendiri akhirnya mati ditelan sang monster yang mereka ciptakan, secara dramatis Korten mengatakan bahwa sistem yang sekarang membelenggu kita mulai melihat bahwa ia tidak terlalu membutuhkan manusia. Pola yang mendasari transformasi institusional yang tengah dilakukan oleh globalisai ekonomi terus bekerja ke arah pengalihan kekuasaan dari rakyat dan komunitas dan memusatkannya di tangan institusi-institusi global raksasa yang telah semakin menjauh dari kepentingan umat manusia. Kita telah makin terperangkap oleh tirani sistem yang buas yang bekerja di luar kendali manusia (hal.338). Setelah mengurai dengan begitu banyak data dan argumen-argumen tentang kebobrokan sitem ekonomi pasar yang kini menguasai dunia, Korten akhirnya menyodorkan alternatif pola pikir baru (sistem ekonomi?) yang kedengarannya terlalu utopis: Ciptakan masyarakat yang lebih mengutamakan pemupukan cinta ketimbang penumpukan uang (hal.394).

Korten mengkritik ekonomi pasar bebas sebagai pengembangan dari revolusi Copernicus yang merupakan hasil observasi ilmiah atas benda-benda fisik dan bersumber dari segelintir ahli-ahli terkemuka dari bidang fisika. Untuk menciptakan masyarakat abad dua puluh satu yang sehat, Korten menawarkan gagasan formatif revolusi ekologis yang merupakan hasil dari pengalaman kolektif manusia dan penelitian terhadap sistem yang bernyawa dan tak bernyawa. Pemikiran revolusi ekologis dapat disarikan ke dalam sejumlah prinsip pedoman, yakni : prinsip kelestarian lingkungan, keadilan ekonomi, keragaman biologi dan kultural, kedaulatan rakyat, tanggung jawab intrinsik, dan prinsip warisan bersama. Prinsip-prinsip tersebut kemudian diturunkan oleh Korten menjadi alternatif kebijakan-kebijakan publik (hal.399-428).

Akhirnya Korten menguraikan tentang bagaimana masyarakat dapat merebut kembali wilayah-wilayah kewenangan mereka yang kini telah direnggut oleh negara yang korup, korporasi besar, dan institusi keuangan yang mengglobal. Organisasi masyarakat dalam wujud organisasi-organisasi politik atau komunitas-komunitas selain berfungsi untuk membangun kekuatan ekonomi juga sebagai kelompok penekan (presure group) untuk menolak kebijakan pemerintah dan keberadaan serta produk korporasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Berbagai contoh dari upaya ini telah banyak terjadi di Brasil, Philipina, Malaysia, Meksiko, Afrika, Kanada, Cina, Tanzania, India, Hungaria, Pantai gading, Panama, Kolumbia, Kenya, Ekuador, Bolivia, Uni-soviet, Korea Selatan, Suriname, dan belahan bumi yang lain. Salah satunya adalah yang terjadi pada tahun 1979, ketika International Organization of Consumer Union (IOCU) Malaysia mengajak International Baby Foundation Action Network (IBFAN) untuk memboikot produk Nestle sebagai reaksi terhadap bukti bahwa pemberian susu botol telah menyebabkan ribuan bayi meninggal di negara-negara miskin. Sementara itu, Third World Network, sebuah kelompok rakyat selatan telah dibentuk di Penang, Malaysia. Menjadikan kota pantai ini titik focus global penolakan rakyat terhadap kolonialisme baru.

Buku ini layak dibaca oleh masyarakat yang masih peduli pada keadilan dan nasib manusia di seluruh pelosok dunia. Bagi Indonesia buku ini bermanfaat sebagai perspektif baru memahami mode globalisasi yang kini mendesak masyarakat sehingga seminar bagaimana mempersiapkan sektor xyz menghadapi pasar bebas ramai diselenggarakan. Memahami bahwa globalisasi adalah proses ketidakadilan dan dehumanisasi yang mesti ditentang, akan membebaskan masyarakat dari hegemoni (keharusan) ekonomi pasar bebas, sekaligus memicu lahirnya masyarakat independen yang dapat merumuskan pemikiran alternatif sistem ekonomi yang berbasis masyarakat dan berpusat pada kehidupan yang terlepas dari cara-pikir komunisme dan kapitalisme yang usang, dan mampu menawarkan langkah-langkah spesifik untuk mencapainya.

Buku yang –tampaknya– ditulis dengan sangat bersemangat ini, dengan sejumlah data dan argumen yang sangat melimpah, meski dapat menggugat globalisasi ekonomi (pasar bebas) dengan sangat lugas, namun tentu tak sebanding dengan pemikiran-pemikiran pasar yang bebas yang sudah sedemikian kokoh.

Buku ini di tulis oleh seorang amerikan tulen, seorang konsultan bisnis (penasehat Harvard) untuk Central Amerika Management Institute (INCAE) yang berpusat di Nikaragua dan akademikus bisnis (seorang pengajar di Harvard University Graduate School of Business) yang pernah mengalami wajib militer selama perang Vietnam. Kesadarannya bahwa praktek pembangunan konvensional yang didukung kaum konservatif dan liberal adalah penyebab utama. bukannya saksi, dari krisis kemanusian potensial yang fatal: kemiskinan yang semakin parah, disintegrasi sosial dan kerusakan lingkungan, merupakan hasil dari refleksi akademis, aktivitas sebagai spesialis proyek Ford Foundation di Manila dan sebagai Asia regional advisor on development management untuk USAID (US Agency for for international development). Kini, Korten aktif di NGO PCDF forum (People-Centered Development Forum), sebuah jaringan kerja warga global untuk memperbarui praktik pembangunan yang berorientasi manusia.***mst

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Menggugat Ekonomi Pasar Bebas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: