Kadin: Pemerintah Jangan Ekspansif Buka Pasar

Perdagangan, Jumat, 10 November 2006

kompas-cetak1
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/10/ekonomi/3082942.htm

Jakarta, Kompas – Kamar Dagang dan Industri Indonesia meminta pemerintah tidak terlalu ekspansif membuka pasar Indonesia kepada negara lain melalui berbagai perjanjian bilateral maupun multilateral perdagangan bebas di tengah industri yang tengah terpuruk dan butuh pemulihan sampai beberapa tahun ke depan.

“Indonesia kita sudah mati setengah, bukan lagi setengah mati untuk beroperasi. Karena itu, pemerintah jangan asal membuka pasar dalam negeri melalui perjanjian-perjanjian bilateral,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan Rachmat Gobel di Osaka, Jepang, Kamis (9/11).

Hal itu dikemukakannya seusai menghadiri forum investasi Indonesia yang diselenggarakan Konsulat Jenderal RI di Osaka yang dihadiri sekitar 260 pengusaha Jepang, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Kepala BKPM M Lutfi, dan Dubes RI untuk Jepang Yusuf Anwar.

Rachmat mengkritik kebijakan pemerintah yang cenderung ekspansif membuka pasar Indonesia dengan melakukan berbagai perjanjian perdagangan bebas. Namun, pada satu sisi industri di dalam negeri tidak dilindungi dari persaingan tidak sehat produk impor ilegal.

“Pasar kita (Indonesia) merupakan insentif bagi pengusaha di dalam negeri. Tanpa insentif apa pun kalau pasar dalam negeri dilindungi dari serangan produk impor (ilegal), maka mereka bisa berkembang,” katanya.

Ia juga mengharapkan pemerintah tidak perlu takut dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam rangka melindungi pasar dalam negerinya agar industri yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja bisa terus tumbuh dan menyerap penganggur dan tenaga kerja baru lebih banyak lagi.

Menanggapi akan ditandatanganinya Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA) Indonesia-Jepang yang ditargetkan pada akhir November 2006, Rachmat mengharapkan pemerintah sudah membuat hitung-hitungan jelas keuntungan dan kerugian Indonesia atas perjanjian tersebut dan target yang harus dicapai.

“Semua kerja sama bilateral itu bagus, tetapi bagaimana implementasinya dan kontrol supaya yang bagus itu betul-betul terjadi, jangan sampai justru pasar kita dimanfaatkan mereka,” ujarnya.

Rachmat melihat peluang yang bisa dicapai dari EPA RI-Jepang menarik kalangan industri komponen Jepang, terutama elektronik untuk investasi guna memperkuat struktur industri di Indonesia.

Menperdag Mari E Pangestu dalam presentasinya di depan pengusaha Jepang mengakui salah satu keinginan Jepang dalam pelaksanaan EPA dengan Indonesia adalah kerja sama di bidang energi dan pembukaan pasar, selain Indonesia dilihat sebagai mitra ekonomi dan politik yang penting.

Namun, ia melihat peluang yang bisa didapat Indonesia antara lain, selain peningkatan kapasitas SDM, juga perluasan akses pasar ke Jepang dengan penurunan tarif, dan peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di negara itu, terutama untuk perawat rumah sakit, perawat orang tua, dan tenaga kerja di bidang pariwisata, yang selama ini dilarang. (*/AST)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: