Dalam Cengkeraman Pasar

Imam Cahyono
Sabtu, 29 Oktober 2005

kompas-cetak6
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/29/humaniora/2164012.htm

Hari-hari ini, kapitalisme telah meraih masa kejayaannya. Inilah zaman baru ketika neoliberalisme menemukan abad keemasan. Sebuah era tatkala batas-batas negara tidak relevan keberadaannya dalam perkembangan tata ekonomi dunia baru (Ohmae, 1990). Kunci sukses abad baru ini adalah kepercayaan kepada pasar dan teknologi (Friedman, 1999).

Inilah era globalisasi, sebuah era totalisasi dari kapitalisme dengan sepak terjangnya yang mutlak tak tertandingi. Tak ada yang mampu menangkis, menahan deru laju pasar yang dinobatkan sebagai paradigma dominan, sekaligus faktor determinan dalam kehidupan.

Peradaban pasar
Sadar atau tidak, kita sedang memasuki era peradaban pasar. Semangat kapitalisme neoliberal tidak hanya terbatas pada transaksi ekonomi, tapi merasuki pola dan perilaku hidup sehari-hari. Tidak hanya produksi, konsumsi dan distribusi, tapi semua lini kehidupan tunduk pada kedigdayaan pasar.

Invasi dan ekspansi logika pasar merongrong seluruh aspek kehidupan. Ekspansi kultural kapitalisme merasuki masyarakat pada semua level dengan sangat halus dan hampir tak teridentifikasi. Pemujaan yang primitif terhadap sistem pasar dilakukan melalui berbagai kebijakan. Pelan tapi pasti, pola pikir ekonomi menjangkiti semua aspek dan menjadi prinsip hidup organisasi sosial, politik, kultural, dan keagamaan.

Kapitalisme berhasil tampil sebagai suatu sistem yang dianggap paling manusiawi dan natural karena berangkat dari usaha pemenuhan kebutuhan manusia, oleh diri mereka sendiri. Kapitalisme adalah sistem yang paling pas untuk operasionalisasi konsep neoliberal yang menyingkirkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan politik.

Di era ini, pasarlah yang menduduki singgasana tertinggi. Sistem pasar telah mengoloni berbagai bidang kehidupan serta menjadi prinsip dominan. Segala persoalan hidup ditempatkan dalam konteks pasar. Neoliberalisme menjadi proyek besar yang berusaha mendekati dan menjelaskan berbagai perkara dalam kehidupan sebagai problem ekonomi.

Peradaban pasar menganjurkan dan mengutamakan konsep manusia ekonomi. Semua hal diatur menurut prinsip ekonomi, yang memerintah di atas semua prinsip lain. Mekanisme pasar dipakai untuk mengatur ekonomi suatu negara maupun global.

Pemujaan pasar yang berlebihan menghasilkan homo economicus yang hanya memikirkan keuntungan. Dulu, transaksi ekonomi hanyalah satu di antara sekian banyak aspek relasi manusia. Tapi sekarang, berbagai hubungan sosial telah dikuasai kalkulasi ekonomi. Tindakan dan relasi sosial politik mengikuti model hubungan menurut kalkulasi untung-rugi yang terjadi dalam transaksi ekonomi. Transaksi dalam kegiatan ekonomi menjadi model yang mendasari semua tindakan dan hubungan antarmanusia, seperti persahabatan, keluarga, hukum, kenegaraan, hubungan internasional, dan bahkan hubungan transendental.

Hakikat (ontologi) economicus berimplikasi pada cara pandang (terminologi) economicus dan juga etika economicus. Homo economicus memberikan ruang seluas-luasnya kepada pasar. Maksimalisasi laba individu menjadi prioritas pertama dan yang paling utama. Kapitalisme lokal dan global dengan gesit dan serakah berdagang, mencari tempat yang empuk untuk mengeruk untung. Keuntungan (profit) menjadi tolok ukur, pola pikir sekaligus tujuan masyarakat apakah suatu hal itu baik atau tidak, dapat terus dipertahankan atau tidak.

Paradigma pasar mengubah cara berpikir dan persepsi masyarakat. Dominasi kapitalisme memutarbalikkan hubungan antara masyarakat (sosial) dan pasar (ekonomi) (Polanyi, 1957).

Pada awal beroperasinya kapitalisme, pasar merupakan bagian dari masyarakat. Operasionalisasi norma-norma pasar berakar dan dibatasi norma sosial, kultural, dan politik. Masyarakat merupakan pemegang kunci dalam hubungan sosial dan ekonomi. Tapi ketika kapitalisme mendominasi, keberadaan pasar telah berbalik 180 derajat, masyarakatlah yang menjadi bagian dari pasar. Kehidupan sehari-hari pun direduksi menjadi bisnis dan pasar.
Di mana-mana yang ada hanya semangat pasar dan sirnalah spirit solidaritas sosial seperti kebersamaan, gotong royong, kepedulian pada yang lemah. Praktik tamak culas tidak sekadar terbatas pada sektor industri dan keuangan, tapi juga sektor- sektor lain yang menyangkut harkat hidup orang banyak.

Politik pun tak lepas dari pengaruh hukum pasar, ada supply and demand. Politik mengikuti model ekonomi sehingga analisa politik berubah menjadi analisa tentang biaya dan manfaat dari suatu transaksi. Politik dipandang sebagai transaksi ekonomi, bahasa politik diubah menjadi bahasa ekonomi, unsur pertarungan kekuasaan dan konflik menjadi kabur.

Politik berubah secara mendalam, disamakan dengan proses pasar dengan tawar-menawar. Bukan hal aneh jika partai politik kita dikuasai oleh para pengusaha. Money politics dengan tegas menyiratkan logika pasar, ada uang ada barang (voter), ada uang ada kebijakan, ada uang ada hukum, dan seterusnya. Sementara, apa pun yang bertentangan dengan market friendly dan investor friendly bakal dipersoalkan dan ditentang.

Daulat pasar
Pasar bebas dan rezim perdagangan bebas jadi meja pengadilan bagi setiap kebijakan pemerintah. Maka, para spekulan secara leluasa memainkan uang di pasar yang sedemikian bebas. Pengusaha dan perusahaan yang semata dibimbing oleh insting mengeruk laba pada tiap kesempatan dapat berbuat semaunya. Dengan modal besar yang mereka miliki dapat digunakan sebagai bargaining power untuk memaksa negara bertekuk lutut.

Negara yang memegang kedaulatan rakyat justru malah melepaskan kedaulatannya pada pengusaha dan pasar. Dominasi pengusaha dan korporatisme—yang semestinya tunduk pada otoritas politik tempat mereka berada—mampu mendikte kebijakan yang harus diambil negara yang mendapat mandat dari rakyat.

Negara seperti macan ompong, dituntut tidak memainkan peran dalam ekonomi, menjalankan kebijakan laissez faire, membiarkan mekanisme pasar mengatur produksi, konsumsi, dan distribusi. Kebijakan neoliberal seperti deregulasi, privatisasi dan liberalisasi memangkas sembari menghabisi peran dan otoritas pemerintah dalam pengelolaan ekonomi negara.

Negara dipangkas dari perannya sebagai pembuat kebijakan dan regulator. Intervensi dan campur tangan negara ditolak. Pasar telah membongkar dinding proteksi dan melucuti negara. Tapi, pasar tidak menghendaki negara hilang sama sekali, melainkan harus menjadi minimal state. Negara masih diperlukan untuk memainkan peran seperti menyediakan infrastruktur, menjamin penegakan hukum dan keamanan.

Negara dalam gagasan neoliberal harus menjaga peran sebagai penjaga malam, tapi juga mengontrol warga, tanpa bertanggung jawab pada mereka. Problema sosial direduksi menjadi masalah individual, seperti pengangguran, kemiskinan, pendidikan, kurang gizi, dan lainnya dilimpahkan menjadi tanggung jawab orang per orang.

Tesis Milton Friedman tentang kegagalan negara menggusur doktrin John Maynard Keynes tentang kegagalan pasar dan pemerintah berkuasa di semua lini yang telah sekarat dan mati. Ekonomi pun jadi panglima. Pasar berperan sebagai komandan.

Sekilas, menyerahkan perekonomian pada pasar tampak sebagai pilihan yang tepat. Namun ternyata, harga yang harus dibayar demikian mahal. Itulah nasib Indonesia yang terombang-ambing digulung ombak dan badai neoliberal.
Negeri ini jatuh bangun tatkala dilucuti pasar. Harga minyak ditentukan pasar. Berbagai kebijakan pemerintah didikte pasar. Pemerintah pun didominasi para pedagang (saudagar) yang jelas-jelas berorientasi pasar (market oriented).
Tapi, pasar tetaplah pasar. Bagi penganut doktrinnya, yang penting adalah untung meski yang lain buntung. Di era pasar, tak ada sesuatu yang gratis, Bung! There is no free lunch.

Imam Cahyono, Wakil Ketua Al Maun Institute

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: