Perlu Garap Peluang di Luar Pasar Tradisional

timbangan21

Selasa, 24 April 2007

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/24/ekonomi/3474620.htm

Jakarta, Kompas – Peluang ekspor produk kerajinan tangan atau handicraft Indonesia di luar pasar tradisional perlu digarap lebih serius.

Tunisia dipandang cukup berpotensi untuk menjadi alternatif pasar bagi produk kerajinan tangan Indonesia.
Pasar Tunisia juga dinilai berpotensi menjadi gerbang untuk menembus pasar Timur Tengah dan Eropa.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Pengusaha Handicraft Indonesia (Asephi) Rudy Lengkong menjelaskan pandangan itu setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan Federasi Nasional Handicraft Tunisia di Kedutaan Besar Tunisia di Jakarta, Senin (23/4).

“Sebenarnya banyak permintaan untuk masuk pasar Tunisia, tetapi pengusaha handicraft Indonesia memang belum berkonsentrasi untuk masuk ke pasar itu,” ujar Rudy.

Total nilai ekspor kerajinan tangan Indonesia tahun 2006 sebesar 486,5 juta dollar AS, meningkat 16 persen dibandingkan nilai ekspor tahun sebelumnya.

Hampir separuh dari nilai itu diperoleh dari ekspor ke AS, yakni 229,5 juta dollar AS. Jepang berada di peringkat kedua negara tujuan ekspor kerajinan tangan dengan nilai 37,4 juta dollar AS.

Berdasarkan data Badan Pengembangan Ekspor Nasional, total nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tunisia tahun 2005 sebesar 17,86 juta dollar AS.

Produk ekspor utama Indonesia ke negara itu adalah minyak sawit mentah, minyak kelapa mentah, karet, dan tekstil.

Potensi pasar Tunisia
Melalui penandatanganan nota kesepahaman, kedua belah pihak bersepakat mendorong pengembangan produksi dan perdagangan kerajinan tangan di kedua negara.

Kerajinan tangan diyakini dapat memperkuat kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke Tunisia. Ketua Federasi Nasional Handicraft Tunisia Mohamed Borhane SFIA menjelaskan, Indonesia dapat memanfaatkan Tunisia sebagai gerbang untuk menembus pasar Uni Eropa.

Tunisia memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Setiap tahun Tunisia juga menjadi negara tujuan wisata dari sekitar 10 juta turis yang sebagian besar berasal dari Eropa.

Menurut Rudy, pascapenandatanganan kesepakatan ini Asephi akan mengikuti serangkaian pameran di Tunisia.
Bersamaan dengan itu, dilakukan pemetaan permintaan pasar Tunisia untuk produk kerajinan tangan secara lebih spesifik.

Konsul Kehormatan Republik Tunisia Moetaryanto menambahkan, pengusaha kerajinan tangan Indonesia akan lebih mudah memenuhi permintaan pasar Tunisia jika dilakukan pembinaan yang lebih terfokus, misalnya berdasarkan kawasan.

“Ada pengusaha dari Yogyakarta yang mengirim produk handicraft satu-dua kontainer per bulan. Akan lebih mudah kalau kita bina sejumlah pengusaha di satu kawasan, misalnya, dikonsentrasikan dari Yogyakarta dulu, untuk bekerja sama memasuki pasar Tunisia,” ujarnya.

Duta Besar Tunisia Faysal Gouia berharap pertukaran keahlian juga terjadi antarkedua negara melalui kerja sama ini. Di Tunisia, kerajinan tangan menyumbang 4 persen dari total produk domestik bruto. (DAY)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: