Pungutan Ilegal Distribusi Kompor Gas; Konsultan Merasa Gerah

bernas_on

Bernas, 3 Desember 2008
WATES : Pungutan ilegal dalam distribusi kompor gas program konversi minyak tanah ke gas, membuat konsultan distribusi dari Politeknik API Yogyakarta merasa gerah. Selasa (2/12) kemarin, pihak API melakukan klarifikasi di Kulonprogo.

Dalam pemberitaan beberapa koran daerah Jogja edisi Selasa, memang seakan-akan para Kades yang bertanggung jawab terhadap adanya pungutan ilegal yang besarnya antara Rp. 1.000 hingga Rp. 10.000 per kompor.

Indah Sri Wulandari SE dari LPM Politeknik API menegaskan, pihaknya tidak menuduh para kades yang menjadi biang pungutan ilegal tersebut.

” Kami tidak menuduh seperti itu, tolong itu diluruskan. Yang jelas masalah tersebut diluar pengetahuan dan diluar tanggung jawab dari kami,” ujar Indah didampingi Asisten Manajer Operasional, Aang Mulyanto, di Wates.

Keduanya mengaku mendapat laporan, pungutan sudah merupakan kesepakatan warga. terhadap pungutan tersebut API tidak ada kongkalingkong dengan pihak yang melakukan pungutan. ”Kami tidak ikut-ikutan dalam hal pungutan itu,” kata Indah. Mereka tidak tahu ide pungutan dari siapa.

Pada bagian dinyatakan, sebagai pihak yang ditugasi melakukan distribusi kompor gas sampai ke warga, Indah dan Aang mengimbau warga masyarakat yang memenuhi kriteria dan belum mendapatkan kompor gas agar segera mengurusnya. ’ Kalau mau cepat langsung ke base camp kami di Sentolo, sebelah selatan ruko lapangan Ngeseng,” ujar Indah Wulandari.

Waktu untuk mengurus, bagi yang belum mendapatkan kompor gas, tinggal sampai dengan tanggal 5 Desember besok. Setelah itu warga sudah tidak dapat mengurus ke API lagi, tetapi harus langsung ke Pertamina.

Sementara itu di sebagian masyarakat, pembagian kompor gas juga menimbulkan masalah. Misalnya di Desa Kulwaru, banyak warga protes ke Kantor Desa karena tidak mendapatkan kompor gas.

Padahal mereka mengetahui ketika pergi ke familinya di Sleman dan Kota Yogyakarta ternyata warga yang strata dengannya juga mendapat bantuan kompor.

Lain lagi dengan warga Kokap yang menjadi penderes, mereka masih enggan menggunakan kompor gas. Karena selama ini mereka memasak nira untuk membuat gula dengan bahan bakar kayu.

Kompor gas berarti akan menambah ongkos produksi membuat gula. ”Sampai sekarang tidak sedikit warga Kokap yang belum menggunakan kompor bantuan itu. Namun kalau diminta ternyata mereka juga tidak membolehkannya,” ujar Sutata, tokoh masyarakat Kokap. (wid)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: