Pusat Belanja dan Gadis Shenzhen

Hindharyoen NTS
Senin, 19 Desember 2005

kompas-cetak173

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/19/ln/2274809.htm

Wah, Anda keliru. Andai datang ke sini satu atau dua pekan lalu, ketika di sini masih musim panas, Anda bisa melihat gadis Shenzhen bergaya. Dengan mengenakan pakaian seksi, pakaian yang mempertontonkan pusar sampai rok mini yang benar-benar minim, mondar-mandir di plaza pusat bisnis di kota ini,” ungkap Denni Te, seorang pemandu wisata dari Southsea ketika melihat sekelompok gadis Shenzhen yang bergaya, melintas di tengah hiruk-pikuk pengunjung yang memadati pusat belanja terbesar di Kota Shenzhen, China.

Mereka mengenakan beraneka ragam model pakaian dari model yang memamerkan pusar dengan sepatu bot atau gadis dengan pakaian yang serba minim. ”Namun, pada awal Desember Shenzhen sudah memasuki musim dingin. Warga di sini sudah mengenakan pakaian yang serba panjang dan tertutup. Pusat belanja juga hanya menjual baju kaus lengan panjang. Tetapi masih banyak gadis belia tetap mengenakan pakaian yang serba minim.

Kata Denni Te, tampilan gadis Shenzhen adalah secuil gambaran kehidupan modern generasi muda China. Shenzhen yang berbatasan dengan Hongkong dan hanya berjarak sekitar 60 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan terletak di Provinsi Ghuangzhou, China bagian selatan, sudah lebih dulu maju dibanding kota-kota di daratan China lainnya.

Shenzhen boleh juga dibilang simbol modernisasi China dan merupakan bagian dari Zona Ekonomi Baru yang telah tumbuh menjadi kota bisnis, sekaligus kota wisata. Meski sama-sama milik China, untuk memasuki Shenzhen harus melalui pemeriksaan imigrasi.

Orang Indonesia tidak dipersulit masuk ke kota ini, meskipun tetap harus memperoleh visa. Uniknya, warga Hongkong dapat dengan bebas masuk ke China, sebaliknya orang China harus memperoleh visa jika akan berkunjung ke Hongkong.

Yang membedakan dari Hongkong adalah harga barang-barang lebih murah, terutama fashion, sepatu, tas, koper, dan aksesori. Jam tangan merek-merek terkenal sangat murah. Jam merek Rolex atau Seiko dijual dengan harga dari 100 sampai 300 dollar HK. Mata uang di daerah ini adalah reminbi, tapi toko-toko tetap menerima dollar HK sebagai alat bayar.

”Tetapi, hati-hati kalau membeli barang-barang elektronik, jam tangan di sini, bisa-bisa terkecoh barang palsu,” ujar Denni Te. Ia mengingatkan, kalau akan membeli barang-barang elektronik harus paham betul kualitas barangnya dan harus pandai menawar serta siap dibentak atau dihardik kalau membeli barang di toko yang tidak memasang tarif.

”Biasanya kalau sudah marah-marah berarti ia akan menyilakan barangnya dibayar,” ujar Denni yang mendampingi Edi Sunaryo, Kepala Niaga Garuda Indonesia Jakarta, dan Syaiful Bachri, bagian Marketing Garuda Indonesia.

Ia mengingatkan, jangan cepat tergiur jika ditawari jam tangan merek terkenal yang harga aslinya jutaan, tapi hanya ditawarkan 100 sampai 300 dollar HK. Jam yang dipajang di etalase kelihatanya asli, tetapi sebenarnya jam aspal (asli tapi palsu). Jangan tanya soal kualitasnya. Jika calon pembelinya tahu seluk-beluk barang yang ditawarkan, si pemilik atau pelayan toko akan mengajak calon pembelinya ke belakang, istilahnya ke gudang.

Di gudang ini mereka menawarkan produk yang kata mereka kualitasnya lebih baik dibanding barang yang dipajang di etalase, meski sama-sama aspal tetapi aspal berkualitas A. Trik dagang ini hanya dilakukan ketika tidak ada polisi. Jika ada polisi lewat biasanya transaksi berhenti. Begitu polisi berlalu, para pedagang mulai lagi menawarkan barang-barangnya.

Kalaupun sesekali ada razia oleh polisi itu hanya dilakukan apabila polisi benar-benar melihat langsung transaksi barang bajakan. Selebihnya hanya untuk menyiasati sorotan dunia internasional bahwa China punya komitmen memberantas praktik pembajakan.

Belanja, bergaya
Bagi mereka yang uangnya cekak tak usah kecewa. Pusat belanja yang luas ini merupakan tempat yang cocok untuk cuci mata. Shenzhen adalah surga bagi mereka yang suka belanja, sekaligus menjadi tempat gadis belia yang suka bergaya.

Di pusat belanja terbesar yang terletak di jantung kota, tersedia beragam fashion bermerek dan berkelas yang harganya relatif murah. Bahkan, sangat murah dibanding di Indonesia. Fashion menjadi magnet bagi orang Indonesia yang suka shopping, dari pengusaha, artis dan selebriti, sampai istri pejabat yang nebeng perjalanan dinas suaminya.

Selain sebagai kota wisata belanja, Shenzhen punya tempat hiburan yang menarik dan jadi andalan untuk menarik wisatawan dan menyedot uang. Sebut saja tempat hiburan China Folk Culture Villages (CFCV) yang dibangun tahun 1989 di atas area seluas 22 hektar.

Di sini pengunjung dapat melihat perkampungan dan kehidupan 22 suku minoritas yang ada di RRC. Di teater terbuka Anda dapat melihat kehebatan suku minoritas Tibet menunggang kuda melalui atraksi perang-perangan di atas kuda.

Tahun 2003, CFCV dilengkapi dengan teater terbuka dan tertutup serta teater terbuka yang menyuguhkan atraksi spektakuler. Untuk menarik kunjungan wisatawan dari daratan China maupun luar China, otoritas Shenzhen menginvestasikan dana sebesar 100 juta reminbi, setara dengan sekitar Rp 125 miliar, untuk membangun berbagai fasilitas.

Di masa datang Shenzhen yang ditetapkan menjadi zona ekonomi baru hanya akan menjadi kota wisata dan bisnis. Pusat pemerintahan akan dipindah ke kota lain, yakni Kota Lo Hu do Fu Tien. Otoritas setempat saat ini sedang mempersiapkan dan membangun infrastruktur jalan, gedung-gedung perkantoran, dan fasilitas lain. Ditetapkankannya Shenzhen sebagai kota khusus wisata dan bisnis diharapkan akan semakin menyedot kunjungan wisatawan dari berbagai negara di Asia termasuk Indonesia.

Garuda Indonesia yang melihat kunjungan WNI ke Hongkong dan biasanya dilanjutkan ke Shenzhen sebagai peluang untuk menambah frekuensi penerbangan ke Hongkong guna melayani orang Indonesia yang akan menghabiskan uangnya untuk berbelanja di Kota Shenzhen.
Selain penerbangan langsung Jakarta-Hongkong, Garuda segera membuka penerbangan langsung Hongkong-Surabaya setiap hari.

Tentang Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua tulisan milik Indah Sri Wulandari

One response to “Pusat Belanja dan Gadis Shenzhen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: