Penjualan Barang Ritel Prospektif; Orang Indonesia Senang Berbelanja

Kamis, 31 Agustus 2006

kompas-cetak110

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/31/ekonomi/2919786.htm

Jakarta, Kompas – Penjualan barang kebutuhan sehari-hari kategori cepat jual tetap meningkat pada tahun 2005 dibandingkan tahun 2004. Padahal, tahun lalu terjadi dua kali kenaikan harga bahan bakar minyak. Kecenderungan ke depan menunjukkan, penjualan barang-barang ritel masih akan prospektif. Demikian kesimpulan hasil survei AC Nielsen terhadap penjualan 51 barang kebutuhan sehari-hari yang cepat jual (fast moving consummer goods/FMCG). Pada tahun 2005, penjualan FMCG meningkat 18 persen menjadi Rp 57,244 triliun dibandingkan tahun 2004.

Adapun angka semester I-2006 sebesar Rp 30,890 triliun, meningkat 10,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2004.
Barang-barang yang disurvei tersebut jika diperingkatkan 10 besarnya, antara lain, terdiri dari susu bubuk, biskuit, deterjen, sampo, sabun mandi, produk perawatan kulit, minyak goreng, minyak wangi, dan popok bayi.
Barang-barang itu tetap dikonsumsi masyarakat meskipun harga BBM melonjak tinggi. Sebagai contoh, penjualan popok bayi meningkat signifikan meskipun harga BBM naik hingga 120 persen pada bulan Oktober 2005.

Pada November 2005, penjualannya sebesar 32,6 juta popok, sementara pada Juni 2006 menjadi 34,517 juta popok.
“Pertumbuhan penjualan barang ritel sebesar 18 persen untuk tahun 2005 tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan sebelum kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, pertumbuhan penjualan FMCG dari Januari hingga Agustus 2005 mencapai 20,3 persen menjadi Rp 37,290 triliun,” kata Direktur Retailer and Business Development AC Nielsen, Yongky Susilo, dalam pemaparan hasil survei “Retail and Shopper Trends”, Rabu (30/8) di Jakarta.

Gencar beriklan
Menurut Yongky, yang membuat penjualan barang ritel tetap tinggi, antara lain, karena peritel gencar beriklan, rata-rata 30 persen per tahun dari total biaya.

Selain itu, dinamika produk baru yang sangat besar mencapai 5.500 barang baru masuk ke pasar. Sementara itu jumlah toko-toko modern yang menyediakan ragam produk, promosi, dan kemudahan terus bertambah.

“Belanja iklan peritel pada tahun 2005 mencapai Rp 115,716 miliar atau meningkat 47,2 persen dibandingkan tahun 2004 yang besarnya Rp 80,701 miliar. Belanja iklan yang terbesar adalah untuk iklan di koran yang pada tahun 2005 sebesar Rp 102,858 miliar,” ujar Yongky.

Meski penjualan barang-barang ritel naik, namun tidak berbanding lurus dengan kinerja beberapa peritel. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk pada semester satu tahun 2006 mengalami penurunan laba bersih 56 persen menjadi Rp 66,7 miliar dibanding semester satu tahun lalu.

PT Hero Supermarket Tbk mengalami penurunan laba bersih pada semester satu tahun ini menjadi Rp 13,9 miliar atau turun 36,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Ini bisa dijelaskan, penjualan yang tinggi kemungkinan tidak diimbangi efisiensi peritel tersebut. Selain itu, belanja iklan yang semakin tinggi juga menggerus keuntungan. Belum lagi persaingan yang semakin ketat,” tutur Yongky.

Hasil survei AC Nielsen yang lain menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Hongkong dalam hal masyarakat yang senang belanja atau dikenal dengan istilah shopaholic. Sebanyak 93 persen masyarakatnya suka pergi ke mal. (TAV)

Tentang Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua tulisan milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: